Sekilas Kenangan di Ruang Keluarga
Kebiasaan dirumah kami setelah makan malam, kami selalu berkumpul diruangan keluarga (Ruang Tengah). Kami selalu berkumpul melakukan intropeksi diri masing-masing. Kedua orang tua kami mendengarkan apa yang kami ungkapkan dalam pembicaraan tsb. Beliau menanyakan kebaikan apa yang telah kami lakukan hari ini ? Keburukan apa yang telah kami lakuan pula. Bagaimana mengatasi perbuatan yang tidak baik pada hari ini ? Bagaimana pula cara meningkatkan dan mempertahankan kebaikan untuk hari selanjutnya ? Apa rencana yang akan kami lakukan untuk hari esok?
Selanjutnya Beliau berceramah tentang agama atau berdiskusi tentang hal-hal yang sedang menjadi topik di masyarakat. Kemudian kamipun diberi pesan, kesan, saran, nasehat dan apa harapan Beliau kepada kami. Biasanya Beliau mengambil contoh yang tak jauh dari kehidupan kami sehingga kami dapat mencerna, mengerti, merasakan dan melihat sendiri kebenarannya cerita yang dipersembahkan oleh kedua orang tua kami. Kamipun jadi jera dan takut bila melakukan kesalahan kepada orang tua sebab kami bisa lihat sendiri kasus perkasus. Hukuman apa yang didapat oleh mereka ?
Maklum saat itu kami masih kecil. Kadang-kadang kami mengemukakan pendapat agak beremosi dan tak jarang pake acara bersitegang alias ngotot..He..he..he. Kamipun akhirnya jadi debat kusir. Kemudian kedua orang tua kami menengahi kami dan memberi masukan serta kritik yang membangun kepada kami.
Kedua orang tua kami memperlakukan kami tak hanya sebagai anak saja namun kami diperlakukan setaraf kawan karib. Jadi kami tak pernah sungkan untuk bercerita apa saja dengan beliau. Namun kamipun tidak pernah lupa selalu menghormati beliau sebagai kedua orang tua kami yang kami cintai.
Pendidikan kami didalam rumah sangat disiplin. Bila salah sedikit saja kami dapat hukuman.
Kala itu kami merasakan betapa kuatnya didikkan ala Belanda dalam keluarga kami.
Kami tak tahu dibalik takbir didikkan keras tersebut ada sekelebat harapan dan doa agar kami bertahan hidup dalam segala situasi.
Setelah saya jauh dari kedua orang tua barulah saya memahami indahnya pendidikan yang saya terima dari kedua orang tua saya di ruang keluarga.
Tak dapat saya sebutkan apa saja yang saya dapati dari kebiasaan berkumpul diruang keluarga tsb.
Yang saya rasakan dari hasil pendidikan beliau adalah terpupuk jiwa kepepimpinan, jiwa riset, jiwa satria, rasa percaya diri yang kuat, royal, tak mudah putus asa/ulet, punya rasa penuh tanggung jawab, memetingkan keperluan orang lain diatas keperluan sendiri, tahu harga diri, dapat bernegoisasi dengan baik, bagaimana mengemukakan pendapat, bagaimana cara mengkritik yang membangun, bagaimana cara memerintah orang sehingga orang tidak merasa saya perintahi dsbnya dengan taburan landasan keagamaan yang kuat.
Sekarang kami baru merasakan fungsi pendidikan dari kedua orang tua kami. Semoga kenangan yang indah saat berkumpul diruang keluarga merupakan pendorong bagi anak dan cucu Beliau.
Insya Allah Kami berharap kebiasan berkumpul diruang keluarga ini masih sering dilakukan, walau mamih sudah tidak bersama kami lagi.
Semoga butiran kasih, untaian cinta, pesona harapan dan fatamorgana asa yang mamih wariskan kepada kami tetap terperihara di Bumi Abesin.
Maklum saat itu kami masih kecil. Kadang-kadang kami mengemukakan pendapat agak beremosi dan tak jarang pake acara bersitegang alias ngotot..He..he..he. Kamipun akhirnya jadi debat kusir. Kemudian kedua orang tua kami menengahi kami dan memberi masukan serta kritik yang membangun kepada kami.
Kedua orang tua kami memperlakukan kami tak hanya sebagai anak saja namun kami diperlakukan setaraf kawan karib. Jadi kami tak pernah sungkan untuk bercerita apa saja dengan beliau. Namun kamipun tidak pernah lupa selalu menghormati beliau sebagai kedua orang tua kami yang kami cintai.
Pendidikan kami didalam rumah sangat disiplin. Bila salah sedikit saja kami dapat hukuman.
Kala itu kami merasakan betapa kuatnya didikkan ala Belanda dalam keluarga kami.
Kami tak tahu dibalik takbir didikkan keras tersebut ada sekelebat harapan dan doa agar kami bertahan hidup dalam segala situasi.
Setelah saya jauh dari kedua orang tua barulah saya memahami indahnya pendidikan yang saya terima dari kedua orang tua saya di ruang keluarga.
Tak dapat saya sebutkan apa saja yang saya dapati dari kebiasaan berkumpul diruang keluarga tsb.
Yang saya rasakan dari hasil pendidikan beliau adalah terpupuk jiwa kepepimpinan, jiwa riset, jiwa satria, rasa percaya diri yang kuat, royal, tak mudah putus asa/ulet, punya rasa penuh tanggung jawab, memetingkan keperluan orang lain diatas keperluan sendiri, tahu harga diri, dapat bernegoisasi dengan baik, bagaimana mengemukakan pendapat, bagaimana cara mengkritik yang membangun, bagaimana cara memerintah orang sehingga orang tidak merasa saya perintahi dsbnya dengan taburan landasan keagamaan yang kuat.
Sekarang kami baru merasakan fungsi pendidikan dari kedua orang tua kami. Semoga kenangan yang indah saat berkumpul diruang keluarga merupakan pendorong bagi anak dan cucu Beliau.
Insya Allah Kami berharap kebiasan berkumpul diruang keluarga ini masih sering dilakukan, walau mamih sudah tidak bersama kami lagi.
Semoga butiran kasih, untaian cinta, pesona harapan dan fatamorgana asa yang mamih wariskan kepada kami tetap terperihara di Bumi Abesin.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home