Sekelumit Kenangan Bersama Mamih Tercinta
Pada tgl 31 Desember 2006, kami berdua diundang oleh keluarga Aunty Nacera asal Argeria untuk bermalam tahun baru bersama anak-anaknya. Tentu saja kami senang mendapat undangan dari Aunty Nacera tsb. Maklum kami belum dipercayai Allah untuk mempunyai momongan.
Karena suami aunty Nacera belum pulang dari tempat kerja tentunya suami saya belum boleh datang menyunjungi rumahnya. Jadi sayalah yang datang lebih dulu kerumah Aunty Nacera. Sebab saya sangat rindu dengan anak2nya yang selalu menyambut ceria bila kami datang.
Karena suami saya sendirian dirumah tentunya dia akan kerja di komputer. Maklum dia hobby sekali duduk didepan komputer untuk memperbaiki web sitenya. Jadi tak mengetahui bila saudara saya dari Indonesia ingin berkomukasi dengan kami untuk mengabarkan bahwa mamih saya yang tercinta dibawa kerumah sakit. Sungguh kami tak tahu sebab line telephon sibuk dipake Amir sehingga kami tak tahu kabar mamih saya masuk rumah sakit.
Karena suami aunty Nacera belum pulang dari tempat kerja tentunya suami saya belum boleh datang menyunjungi rumahnya. Jadi sayalah yang datang lebih dulu kerumah Aunty Nacera. Sebab saya sangat rindu dengan anak2nya yang selalu menyambut ceria bila kami datang.
Karena suami saya sendirian dirumah tentunya dia akan kerja di komputer. Maklum dia hobby sekali duduk didepan komputer untuk memperbaiki web sitenya. Jadi tak mengetahui bila saudara saya dari Indonesia ingin berkomukasi dengan kami untuk mengabarkan bahwa mamih saya yang tercinta dibawa kerumah sakit. Sungguh kami tak tahu sebab line telephon sibuk dipake Amir sehingga kami tak tahu kabar mamih saya masuk rumah sakit.
Setelah suami Aunty Nacera tiba dirumah, suami sayapun datanglah mengunjungi rumah Aunty Nazera. Amir sangat senang dengan penyambutan anak-anak aunty Nazera. Lalu kamipun bermain dan bercandalah dengan keluarga Aunty Nazera terutama dengan anak-anaknya, sehingga amir tak mau pulang bila saya ajak untuk pulang kerumah sebab sudah larut malam.
Tak biasanya saya minta pulang berkali-kali pada Amir. Sampai-sampai Aunty Nazera bilang apa Betty sudah lelah bercanda dengan anak-anaknya ?
Dikarenakan saya selalu minta pulang pada Amir, akhirnya sebelum pukul dua belas malam kamipun pulanglah kerumah, dengan membawa kenangan indah bercanda dan bersukaria bersama anak-anak Aunty Nazera.
Biasanya malam tahun baru kami selalu keluar untuk melihat keadaan kota Cardiff. Entah kenapa saat itu kami tak ada yang berniat untuk melihat-lihat keadaan kota Cardiff.
Biasanya kamipun menyempatkan telephon keluarga kami masing-masing untuk bercerita keadaaan kabar kami. Maklum kami berdua jauh dari sanak famili pula. Namun malam itu kami lelah dan tak ada yang ingat untuk memberi kabar pada keluarga masing-masing. Entah kenapa ?
Esok harinya tanggal 1 Januari 2007 mood sayapun tak bagus juga. Murung dan tak enak hati. Amirpun gundah melihat keadaan saya. Dia berusaha menghibur saya, namun tetap saja saya sedih.
Tanggal 2 Januari 2007 mood saya lebih tak bagus lagi, tiba-tiba menangis tanpa sebab. Amirpun ikut sedih sebab tak biasanya saya bersedih. Amir pikir mood saya berubah karena hormon saya. He..he..he. Maklumlah perempuan selalu mood berubah setiap saat.
Tanggal 3 Januari 2007 mood saya agak baik sehingga Amir tak gundah lagi dengan keadaan saya. Lalu malam harinyapun saya tidur terlena, tanpa ada gangguan untuk spent a penny. Biasanya saya selalu bangun setiap pukul dua malam untuk melakukan sholat atau spent a penny. Malam itu kami berdua tak ada yang bangun. Tidur lelap dalam kehangatan malam.
Rupanya saat itulah mamih saya yang tercinta telah kembali kepada pangkuan allah SWT.
Esok harinya tanggal 4 Januari 2007 amir mulai melakukan tugas rutinnya yaitu pergi ke kantor untuk bekerja. Sayapun mengantarkan Amir sampai didepan pintu kantornya. Entah kenapa hari itu saya minta izin untuk seharian pergi kepada Amir untuk meeting dengan kawan saya. Tak biasanya saya begitu. Walaupun kami berdua berpuasa tetap saya pulang kerumah pada siang harinya. Maklum kebiasaan kami berdua selalu makan siang bersama dan melakukan sholat bersama.
Sayapun pergilah meeting dengan kawan-kawan saya. Kabiasaan kami melakukan sholat Duha bersama sebelum melakukan meeting. Entah kenapa saya bulak-balik ambil wudhu, seolah-olah saya ini tak sempurna melakukan wudhu. Rupanya saat itulah mamih saya tersayang telah dikebumikan, Namun saya tak tahu keadaan mamih saya.
Disaat meetingpun entah kenapa saya tertidur tak biasanya saya tidur saat meeting. Kawan-kawan sayapun berguraulah. Wah..Betty nih pasti sedang berisi sebab tak biasanya tidur dalam meeting dan tak sepatahpun terdengar suaranya. Saya hanya tersenyum.
Setelah meeting sayapun mengunjungi rumah kawan saya. Maklum rumahnya kawan saya itu dekat dengan kantornya Amir. Rupanya suami saya pada pukul dua siang telah mendapat kabar sedih dari adik saya Dini yang mengabarkan bahwa mamih kami telah dipanggil oleh Allah SWT. sUami saya Amir terperanjat dan menangis. Lalu Amirpun mencari saya dan berusaha mengontak saya kerumah kawan-kawan saya. Anehnya setiap saya angkat telephon dirumah kawan saya itu tak ada suara. Jadi kamipun tak menghiraukan telephon yang berdering dari suami saya untuk mengabari saya tentang keadaan keluarga saya.
Tepat pukul lima sore sayapun datanglah kekantor Amir untuk menjemputnya. Tiba-tiba saya lihat muka amir sungguh sedih. Dimatanya terlihat air menitik, seperti menangis. Sayapun sedikit gundah. Ada apa dengan Amir ? Dia lalu merangkul saya dan mengajaknya keruangan tempat kerjanya. Lalu dia berkata perlahan dan mengabari tentang keluarga saya sambil menangis. Saya sungguh terkejut. Tak keluar air matapun. Bingung dan gelisah. Lalu kamipun pulanglah kerumah. Diperjalanan barulah saya menangis sejadi-jadinya. Tiba dirumah sayapun cepat mengontak keluarga saya. Dan barulah saya percaya dengan kabar berita itu. Rupanya saat saya telephon ke Indonesia mereka sudah selesai melakukan tahlil. Amirpun mengabari keluarga besarnya tentang mamih saya. Merekapun terkejut semua.
Kami berdua menangis tak henti-hentinya sebab sangat menyayangi dan mencintai mamih. Terutama Amir sangat sayang dan cinta pada mamih saya. Apa pesan dan nasehat mamih yang dilontarkan pada Amir, Amir ikuti. Saya teringat bila mamih saya sakit, Amir sering diam-diam berdoa untuk mamih saya.
Setelah sedu sedan kami berdua reda, kamipun melakukan doa bersama untuk mamih.
Tanggal 5 Januari 2007 sampai tanggal 10 Januari 2007 Amirpun ambil cuti untuk menemani saya dan melakukan doa bersama untuk mamih tercinta.
Mamih sayang, Amir sangat menyayangimu dan mencintaimu. Setiap habis sembahyang dia baca yasin untuk mamih sambil berlinang air mata. Amir minta maaf tak dapat menemui mamih dan merawat mamih dikala sakit karena pekerjaannya, begitulah gunamnya yang saya dengar.
Apalagi saya mamih. Merintih dan sedih tak dapat menemui dan merawat mamih dikala sakit.
Tanggal 5 Januari 2007 pagi Amir mengubungi beberapa imam di beberapa mesjid untuk memberi tahu kabar sedihnya., dengan niat agar mamih didoakan bersama saat melakukan sholat jumat dimasing-masing mesjid. Lalu kami berduapun pergi kemesjid terdekat untuk melakukan sembahyang Jumat. Rupanya sampai waktu asharpun saya dengar mereka melakukan doa bersama untuk mamih saya. Oh sungguh beruntungnya mamih..!
Mamih sayang, banyak orang yang tak mengenali mamih namun mereka suka rela mendoakan mamih. Sayapun terkejut pula saat imam mengumumkan nama mamih dan kawan-kawan sayapun terkejut dengan kabar tsb. Banyak yang menangisi kepergian mamih. Sebab saya sering cerita kepada kawan-kawan saya siapa mamih saya tersayang ini. Lalu sayapun berceritalah bagaimana mamih dipanggil Allah SWT. Merekapun menangis sambil berusaha menghibur saya. Mereka bilang mamih orang sholeh dan baik sehingga diberi kemudahan dalam segala hal.
Setelah selesai sholat Ashar. Tiba-tiba ada beberapa orang asal Somali dan Saudi Arabia menghampiri saya. Saya tak mengenalinya. Lalu orang Somali itu mencium kening saya dan menanyakan siapa nama mamih, nama kakak saya dan nama nenek saya. Sayapun menjawablah sambil sedikit bingung sebab tak tahu maksud pertanyaan yang mereka lontarkan.
Mereka baru seminggu tinggal di Cardiff. Lalu berniat ingin mendoakan mamih, kenapa mereka tanya nama-nama keluarga saya. Saya bertanya pula pada mereka sebab mereka tak mengenal mamih. Apa jawaban yang mereka berikan pada saya mamih sayang ?
"Selama seminggu kami berkunjung ke mesjid Darul Isra. Tak ada sister macam kamu yang memberi salam lalu mendatangi satu persatu orang yang berada diseluruh ruangan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Mau pulangpun kamu melakukan hal yang sama pula. Dan kami lihat semua orang diruangan menyukaimu dan menyambutmu dengan pelukan dan menanyakan kabar kamu. Lalu kami lihat kamu duduk dan melakukan sembahyang sunat. Kami senang melihat kamu memperlakukan kami seolah-olah kamu mengenal kami. Kami tak ada yang menyalami sebelumnya. Kami terpesona dengan caramu. Tentunya kamu mendapat pelajaran dan didikan yang baik dari keluargamu. Apalagi kami dengar imam mengumumkan nama ibumu untuk didoakan bersama dikaitkan dengan namamu dan suamimu. Lalu kawan-kawanmupun menangis.
Tentunya mereka jatuh sayang kepadamu karena budi bahasamu. Mereka melihat siapa dirimu ? Tentunya ibunya lebih baik budi bahasa serta perilakunya dari anaknya. Anak perempuannya saja disukai orang apalagi ibunya ?
Karena itu izinkanlah kami melakukan tahlil di perkumpulan Somali kami. "
Mereka menciumi kening saya lalu memberi nasehat satu persatu dan mengajak saya mengikuti pengajian diperkumpulannya.
Oh..mamih sayang..betul nasehat dan didikan mamih dari kecil pada saya tentang cara hidup bermasyarakat. Mamih saat itu berkata sulit untuk bisa hidup bermasyarakat. Pandai dan mempunyai kedudukan bukan jaminan untuk dapat diterima dimasyarakat. Harus pandai membawa diri. Tahu Harga diri. Jangan menepuk didada orang lain, tetapi bertepuklah pada dada sendiri. Saya baru memahami setelah saya jauh dari mamih. Ternyata saya tak diperbolehkan menaruh nama bapak sendiri dibelakang nama saya karena mamih ingin mendidik saya untuk menjadi diri sendiri. Karena kalau dibelakang nama saya ditaruh nama bapak saya tentunya orang akan tahu siapa saya ? Dan diberi kemudahan untuk cari kerja dsbnya. Karena itulah saya baru teringat saat saya menjadi intruktur organisasi tak ada yang tahu bahwa bapak saya ada disebelah saya. Lalu mamihpun menyarankan saya agar saya jadi guru atau dosen saat saya masih belum tamat akademi saya. Dari situlah saya belajar mendidik, mengerti jiwa orang lain, mengutamakan kepemntingan umum dsb.
Mamih tak pernah memaksa saya untuk berbuat yang saya tak sukai. Namun bila saya menyukai sesuatu mamih selalu menyokongnya. Saya teringat rumah mamih dipenuhi oleh kawan-kawan saya karena saya buat band dan kegiatan lain. Mamihpun membuat kawan-kawan betah mengunjungi rumah mamih. Semua kawan saya memanggilmu mamih pula. Lalu bila mamih masakpun kawan-kawan saya menemani mamih dengan kiriman lagu-lagu dari radio. Mamih selalu dapat kiriman lagu dan pesan dari penyiar sebab semua kawan saya jadi penyiar :) Mamih hanya tersenyum bila mereka berpesan " yang enak masaknya mamih, nanti sore kami datang ". Pembantupun dibuat sibuk pula.
Saya teringat rumah mamihpun sering bising karena latihan band. Sampai tetangga marah karena rumah mamih dari pagi sampai malam dikunjungi kawan-kawan saya. Tetangga komplen, namun mamih selalu baik pada tetangga. Karena itulah semuanya merasa kehilangan mamih.
Setelah saya tak tinggal dirumah mamih. Rumah mamih sunyi. Tetanggapun tak pernah komplen lagi. Sebab tak membuat macet jalanan karena mobil dan motor kawan-kawan saya.
Saya dengar dari kawan saya tentang rumah mamih. "Wah... kalau masih ada anak putrinya nomor satu..rumah Ibu Barnas itu penuh dengan motor dan mobil, bikin macet jalanan saja. Syukurlah dia sudah selesai sekolah jadi tak tinggal sama ibunya. :( . Masih ada sih dua anak perempuannya tapi tak banyak didatangi kawan-kawannya."
Weleh..mamih..mereka tak suka saya karena rumah mamih sering didatangi kawan-kawan saya.
Namun mamih tentunya masih ingat biar saya sudah kerjapun tetap saja kawan-kawan datang berkunjung pada mamih. Malah setelah saya jadi dosenpun masih banyak student-student datang berkunjung kerumah mamih. Hanya skalanya mungkin kecil sehingga tetangga tak banyak komplen.
Wah mamih sayang, dulu saya tak ingin jadi dosen dan setelah saya sekolah di uk dan bertemu dengan salah satu anak didik saya yg menjadi wartawan. Alangkah senangnya. Lalu diapun cerita pada kawan-kawan di Cardiff bila saya sangat disiplin mendidik studentnya. Sampai-sampai kawan saya Djoko Susilo (wartawan Jawapos, mungkin sekarang anggota MPR) bingung masa saya jadi dosen ? Wong kelakuan saja kayak anak-anak. Lalu diapun ceritalah bila saya disekolah ya tak akrab dengan student tapi bila diluar sekolah saya akrab. Weleh buka rahasia betul tuh anak ?
Lalu sayapun teringat pula saat saya sedang dilatih di Megamendung dalam rangka Menwa. Mamih datang menemui senior saya. Danyon Menwa Batalyon VII pun menghargai mamih dan menyayangi Mamih. He..He..Dia bilang tak pernah melihat seorang ibu begitu perhatiannya pada anak putrinya. Pantas saja putrinya sifatnya macam ibunya..he..he.. galak !
Danyon Menwa Batalyon 1 pun bingung lihat mamih kasih suport saat saya diberangkatkan untuk jurit malam. Tak diberi kesempatan untuk bertemu mamih :). Sampai saat pelantikan bukannya saya yang diselamati malah mamih :)
Saat Prof Rachmat telah menyelesaikan PhDnya lalu mengucapkan terima kasih pada mamih dan bapak saya. Mamih hanya tersenyum. Beliau kagum sebab mamih telah mendidik kedisiplinan yg kuat sehingga Prof Rachmat hanya mempercayai saya sebagai asistennya. Saya teringat betapa susahnya dapat nilai 50 untuk mineralogy dari Prof Rachmat. Nah sekarang saya asistennya pula.
Mamih masih ingatkah dengan asistennya Prof Satari ( Basuki), yang sering bersilat lidah dengan Prof Rachmat ? Mamih selalu menertawakan Basuki bila Basuki naik pitam karena ulah Prof Rachmat.
Tak ada orang tua yang suka mengantar jemput anak gadisnya yang sudah bekerja kata Mbak Anna. Masa Betty sudah bekerja di BPPT lalu diperbantukan di PT Bahagia Agung dan IPB pula masih suka dijemput ibu -bapaknya. Apa tak malu ?
Lalu saat saya jadi asisten Dr Padmono di UNPAK. Mamih dan bapakpun sering jemput pula.
Sampai-sampai saya dikira anak bungsu. Weleh..
Mamih mengajarkan saya tak gentar dengan siapapun. Saya berkali-kali menghadap pejabat karena pekerjaan saya. Sampai-sampai Pak Habibie saat saya pamit untuk sekolah, beliau tanya keadaan mamih.
Pukul 7 malam hari terakhir saya di BPPT, saya bertemu di lift dengan pak habibie. Beliau berkata kok masih belum berangkat ? Cepat pulang ya ! Itulah pertemuan terakhir saya dengan Pak Habibie. Lalu Asistennya Pak Rubianto berkata pula. Wah masih beah di jakarta ya :) Lalu kamipun bersalaman dan Pak Habibie menepuk-nepuk bahu saya lalu berbicara dengan Amanda Katili. Sayapun titip salam untuk bapaknya Amnda sebab saya pernah bertemu.Wah mamih tanpa bimbinganmu saya jadi orang penakut. Takut bicara dan mengemukan pendapat dengan orang apalagi dengan pejabat.
Saya ingat perjanjian yg harus ditandatangani Prof Parangtopo (UI) dan Bppt (Prof. Habibie), membuat saya stress. Untungnya Prof Satari banyak menolong saya. Tanpa suport mamih saya tak akan macam ini. Teguh dengan pendirian dan prinsif.
Saat saya menghadap ke Pt Kalbe Farma karena saya harus menandatangani perjanjian bantuan pada saya untuk beli buku selama saya belajar. Beliau bilang didikan mamih keras sekali. Saya hanya mengiyakan saja sebab saya bingung juga kok mereka tahu mamih. Rupanya Ibu Ainun Habibie beri tahu tentang mamih. Sebab dia tanya juga hubungan mamih dengan Ua Sarwono ?
Kemanapun saya pergi mamih selalu memberi pesan dan nasehat yang susah dijabarkan saat itu oleh saya. Namun setelah saya jauh dari mamih barulah saya dapat menjabarkan makna pesan dan nasehat mamih itu.
Selalu mamih berkata mamih tak mau mewarisi saya dengan harta sebab bila saya dikasih harta, bila tak dapat mengunakannya akan jatuh sengsara. Namun bila mamih mewarisi saya dengan ilmu. Dimanapun saya berada dapat saya gunakan. Ilmu tidak dapat dicuri. Selalu berada dalam gegaman saya.
Oh mamih benar itu. karena itulah saya pergi jauh untuk menimba ilmu.
Mamih berharap ilmu saya dapat berguna untuk bangsa, negara dan agama. Insya Allah mamih !
Mamih berharap agar saya dapat hidup dengan baik dan diterima dimasyarakat dengan baik.
Mamih berkata bila hidup saya tak dapat diterima dimasyarakat, mamihlah yang bersalah sebab telah gagal mendidik putrinya.
Oh Mamih..saya ingin memperlihatkan pada mamih, saya dan Amir dapat hidup dengan baik dan diterima oleh masyarakat. Jadi mamih tak pernah gagal mendidik putrinya.
Bila saya teringat saat saya pergi ke Jepang mamih suport pula. Lalu saat saya pergi ke Cardiffpun mamih suport pula. Saya ingat saat saya bicara di airport . Prof Rachmat yang ikut mengantarkan kepergian saya untuk sekolah ke cardiff bertanya apa pesan Pak Habibie dan Pak Satari pada saya ? Saya cerita didepan mamih pesan Prof Habibie, Prof Satari, Prof Sitoresmi, Prof Nasution dllnya. Dan saya lihat mamih berlinang air mata. Saya tak pernah melihat mamih sedih. Saat itulah terlihat mamih begitu sedih. Sayapun bersayonaralah pada mamih. dan Bapak saya serta orang-orang yang mengantar saya ke bandara. Uh..sedihnya meninggalkan mamih yang bercucuran air mata.
Setelah di Cardiffpun supervisor sayapun kagum dengan mamih. Saat saya beritahu mamih telah berpulang kepangkuan Allah SWT. Kawan-kawan di departement earthsciencepun sedih. Betapa bermaknanya mamih untuk saya dan organisasi student. Tanpa bimbingan dan teladan serta suport mamih mungkin tak ada apa-apanya kami ini.
Oh Mamih sayang..keberhasilan didikan mamih mulai terlihat. Namun mamih tak dapat melihatnya.
Banyak orang merasa kehilangan mamih sebab mamih orang baik. Mamih banyak ide. Mamih tak pernah patah semangat. Mamih pelita hati kami. Mamih berkata pada saya dan kawan-kawan saya, untuk meraih PHD itu bukan saja kita harus pandai tetapi kita bisa menguasai dan mengatasi problema serta mempunyai kesempatan. Bila kamu bisa mengatasai semua problem dan sedikit kepandaian serta diberi kesempatan tentunya kau dapat meraih PhD. Mamih yakin itu.
Benar mamih tidur saja saya hanya 2- 4 jam setiap hari. Untungnya saya sudah biasa dengan didikan mamih ala orang belanda. Tepat waktu dan pegang teguh prinsif. He..he..
Nah Mamih..terima kasih dan sayang saya tak terhingga atas pengorbanan mamih selama hidupnya untuk anak perempuannya yang mamih sayangi. Kerjaannya belajar tak pernah mau bantu mamih didapur, sampai adik lelaki saya memanggil saya " Ratu Kuong". Mamih hanya tersenyum saja. "Adik saya protes kok Ratu Kuong tak pernah kerja tapi sering dikasih uang terus sama mamih". Mamih tak adil..! Kasihan mamih dapat protes dari adik-adik saya.
Setelah saya menikah barulah saya belajar memasak sebab dulu saat kecil, saya tak pernah kerja didapur. Maklum mamih saya punya pembantu..jadi anak gadisnya pemalas :(
Bapak saya sampai bilang saya salah sekolah. Harusnya sekolah dibidang parawisata sebab kerjanya kelayaban dari pagi pulang malam. Mainnya hanya dengan lelaki. Weleh...
Rasanya sayalah anak mamih yang paling nakal tapi penurut ya mamih :)
Mohon ampunannya mamih. Saya telah menyusahkan mamih selama saya remaja.
Semoga mamih tetap menemani tidur saya dan menjadi pelita hati dan teladan dalam hidup saya.
Amin Ya Robal Alamin.
Tak biasanya saya minta pulang berkali-kali pada Amir. Sampai-sampai Aunty Nazera bilang apa Betty sudah lelah bercanda dengan anak-anaknya ?
Dikarenakan saya selalu minta pulang pada Amir, akhirnya sebelum pukul dua belas malam kamipun pulanglah kerumah, dengan membawa kenangan indah bercanda dan bersukaria bersama anak-anak Aunty Nazera.
Biasanya malam tahun baru kami selalu keluar untuk melihat keadaan kota Cardiff. Entah kenapa saat itu kami tak ada yang berniat untuk melihat-lihat keadaan kota Cardiff.
Biasanya kamipun menyempatkan telephon keluarga kami masing-masing untuk bercerita keadaaan kabar kami. Maklum kami berdua jauh dari sanak famili pula. Namun malam itu kami lelah dan tak ada yang ingat untuk memberi kabar pada keluarga masing-masing. Entah kenapa ?
Esok harinya tanggal 1 Januari 2007 mood sayapun tak bagus juga. Murung dan tak enak hati. Amirpun gundah melihat keadaan saya. Dia berusaha menghibur saya, namun tetap saja saya sedih.
Tanggal 2 Januari 2007 mood saya lebih tak bagus lagi, tiba-tiba menangis tanpa sebab. Amirpun ikut sedih sebab tak biasanya saya bersedih. Amir pikir mood saya berubah karena hormon saya. He..he..he. Maklumlah perempuan selalu mood berubah setiap saat.
Tanggal 3 Januari 2007 mood saya agak baik sehingga Amir tak gundah lagi dengan keadaan saya. Lalu malam harinyapun saya tidur terlena, tanpa ada gangguan untuk spent a penny. Biasanya saya selalu bangun setiap pukul dua malam untuk melakukan sholat atau spent a penny. Malam itu kami berdua tak ada yang bangun. Tidur lelap dalam kehangatan malam.
Rupanya saat itulah mamih saya yang tercinta telah kembali kepada pangkuan allah SWT.
Esok harinya tanggal 4 Januari 2007 amir mulai melakukan tugas rutinnya yaitu pergi ke kantor untuk bekerja. Sayapun mengantarkan Amir sampai didepan pintu kantornya. Entah kenapa hari itu saya minta izin untuk seharian pergi kepada Amir untuk meeting dengan kawan saya. Tak biasanya saya begitu. Walaupun kami berdua berpuasa tetap saya pulang kerumah pada siang harinya. Maklum kebiasaan kami berdua selalu makan siang bersama dan melakukan sholat bersama.
Sayapun pergilah meeting dengan kawan-kawan saya. Kabiasaan kami melakukan sholat Duha bersama sebelum melakukan meeting. Entah kenapa saya bulak-balik ambil wudhu, seolah-olah saya ini tak sempurna melakukan wudhu. Rupanya saat itulah mamih saya tersayang telah dikebumikan, Namun saya tak tahu keadaan mamih saya.
Disaat meetingpun entah kenapa saya tertidur tak biasanya saya tidur saat meeting. Kawan-kawan sayapun berguraulah. Wah..Betty nih pasti sedang berisi sebab tak biasanya tidur dalam meeting dan tak sepatahpun terdengar suaranya. Saya hanya tersenyum.
Setelah meeting sayapun mengunjungi rumah kawan saya. Maklum rumahnya kawan saya itu dekat dengan kantornya Amir. Rupanya suami saya pada pukul dua siang telah mendapat kabar sedih dari adik saya Dini yang mengabarkan bahwa mamih kami telah dipanggil oleh Allah SWT. sUami saya Amir terperanjat dan menangis. Lalu Amirpun mencari saya dan berusaha mengontak saya kerumah kawan-kawan saya. Anehnya setiap saya angkat telephon dirumah kawan saya itu tak ada suara. Jadi kamipun tak menghiraukan telephon yang berdering dari suami saya untuk mengabari saya tentang keadaan keluarga saya.
Tepat pukul lima sore sayapun datanglah kekantor Amir untuk menjemputnya. Tiba-tiba saya lihat muka amir sungguh sedih. Dimatanya terlihat air menitik, seperti menangis. Sayapun sedikit gundah. Ada apa dengan Amir ? Dia lalu merangkul saya dan mengajaknya keruangan tempat kerjanya. Lalu dia berkata perlahan dan mengabari tentang keluarga saya sambil menangis. Saya sungguh terkejut. Tak keluar air matapun. Bingung dan gelisah. Lalu kamipun pulanglah kerumah. Diperjalanan barulah saya menangis sejadi-jadinya. Tiba dirumah sayapun cepat mengontak keluarga saya. Dan barulah saya percaya dengan kabar berita itu. Rupanya saat saya telephon ke Indonesia mereka sudah selesai melakukan tahlil. Amirpun mengabari keluarga besarnya tentang mamih saya. Merekapun terkejut semua.
Kami berdua menangis tak henti-hentinya sebab sangat menyayangi dan mencintai mamih. Terutama Amir sangat sayang dan cinta pada mamih saya. Apa pesan dan nasehat mamih yang dilontarkan pada Amir, Amir ikuti. Saya teringat bila mamih saya sakit, Amir sering diam-diam berdoa untuk mamih saya.
Setelah sedu sedan kami berdua reda, kamipun melakukan doa bersama untuk mamih.
Tanggal 5 Januari 2007 sampai tanggal 10 Januari 2007 Amirpun ambil cuti untuk menemani saya dan melakukan doa bersama untuk mamih tercinta.
Mamih sayang, Amir sangat menyayangimu dan mencintaimu. Setiap habis sembahyang dia baca yasin untuk mamih sambil berlinang air mata. Amir minta maaf tak dapat menemui mamih dan merawat mamih dikala sakit karena pekerjaannya, begitulah gunamnya yang saya dengar.
Apalagi saya mamih. Merintih dan sedih tak dapat menemui dan merawat mamih dikala sakit.
Tanggal 5 Januari 2007 pagi Amir mengubungi beberapa imam di beberapa mesjid untuk memberi tahu kabar sedihnya., dengan niat agar mamih didoakan bersama saat melakukan sholat jumat dimasing-masing mesjid. Lalu kami berduapun pergi kemesjid terdekat untuk melakukan sembahyang Jumat. Rupanya sampai waktu asharpun saya dengar mereka melakukan doa bersama untuk mamih saya. Oh sungguh beruntungnya mamih..!
Mamih sayang, banyak orang yang tak mengenali mamih namun mereka suka rela mendoakan mamih. Sayapun terkejut pula saat imam mengumumkan nama mamih dan kawan-kawan sayapun terkejut dengan kabar tsb. Banyak yang menangisi kepergian mamih. Sebab saya sering cerita kepada kawan-kawan saya siapa mamih saya tersayang ini. Lalu sayapun berceritalah bagaimana mamih dipanggil Allah SWT. Merekapun menangis sambil berusaha menghibur saya. Mereka bilang mamih orang sholeh dan baik sehingga diberi kemudahan dalam segala hal.
Setelah selesai sholat Ashar. Tiba-tiba ada beberapa orang asal Somali dan Saudi Arabia menghampiri saya. Saya tak mengenalinya. Lalu orang Somali itu mencium kening saya dan menanyakan siapa nama mamih, nama kakak saya dan nama nenek saya. Sayapun menjawablah sambil sedikit bingung sebab tak tahu maksud pertanyaan yang mereka lontarkan.
Mereka baru seminggu tinggal di Cardiff. Lalu berniat ingin mendoakan mamih, kenapa mereka tanya nama-nama keluarga saya. Saya bertanya pula pada mereka sebab mereka tak mengenal mamih. Apa jawaban yang mereka berikan pada saya mamih sayang ?
"Selama seminggu kami berkunjung ke mesjid Darul Isra. Tak ada sister macam kamu yang memberi salam lalu mendatangi satu persatu orang yang berada diseluruh ruangan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Mau pulangpun kamu melakukan hal yang sama pula. Dan kami lihat semua orang diruangan menyukaimu dan menyambutmu dengan pelukan dan menanyakan kabar kamu. Lalu kami lihat kamu duduk dan melakukan sembahyang sunat. Kami senang melihat kamu memperlakukan kami seolah-olah kamu mengenal kami. Kami tak ada yang menyalami sebelumnya. Kami terpesona dengan caramu. Tentunya kamu mendapat pelajaran dan didikan yang baik dari keluargamu. Apalagi kami dengar imam mengumumkan nama ibumu untuk didoakan bersama dikaitkan dengan namamu dan suamimu. Lalu kawan-kawanmupun menangis.
Tentunya mereka jatuh sayang kepadamu karena budi bahasamu. Mereka melihat siapa dirimu ? Tentunya ibunya lebih baik budi bahasa serta perilakunya dari anaknya. Anak perempuannya saja disukai orang apalagi ibunya ?
Karena itu izinkanlah kami melakukan tahlil di perkumpulan Somali kami. "
Mereka menciumi kening saya lalu memberi nasehat satu persatu dan mengajak saya mengikuti pengajian diperkumpulannya.
Oh..mamih sayang..betul nasehat dan didikan mamih dari kecil pada saya tentang cara hidup bermasyarakat. Mamih saat itu berkata sulit untuk bisa hidup bermasyarakat. Pandai dan mempunyai kedudukan bukan jaminan untuk dapat diterima dimasyarakat. Harus pandai membawa diri. Tahu Harga diri. Jangan menepuk didada orang lain, tetapi bertepuklah pada dada sendiri. Saya baru memahami setelah saya jauh dari mamih. Ternyata saya tak diperbolehkan menaruh nama bapak sendiri dibelakang nama saya karena mamih ingin mendidik saya untuk menjadi diri sendiri. Karena kalau dibelakang nama saya ditaruh nama bapak saya tentunya orang akan tahu siapa saya ? Dan diberi kemudahan untuk cari kerja dsbnya. Karena itulah saya baru teringat saat saya menjadi intruktur organisasi tak ada yang tahu bahwa bapak saya ada disebelah saya. Lalu mamihpun menyarankan saya agar saya jadi guru atau dosen saat saya masih belum tamat akademi saya. Dari situlah saya belajar mendidik, mengerti jiwa orang lain, mengutamakan kepemntingan umum dsb.
Mamih tak pernah memaksa saya untuk berbuat yang saya tak sukai. Namun bila saya menyukai sesuatu mamih selalu menyokongnya. Saya teringat rumah mamih dipenuhi oleh kawan-kawan saya karena saya buat band dan kegiatan lain. Mamihpun membuat kawan-kawan betah mengunjungi rumah mamih. Semua kawan saya memanggilmu mamih pula. Lalu bila mamih masakpun kawan-kawan saya menemani mamih dengan kiriman lagu-lagu dari radio. Mamih selalu dapat kiriman lagu dan pesan dari penyiar sebab semua kawan saya jadi penyiar :) Mamih hanya tersenyum bila mereka berpesan " yang enak masaknya mamih, nanti sore kami datang ". Pembantupun dibuat sibuk pula.
Saya teringat rumah mamihpun sering bising karena latihan band. Sampai tetangga marah karena rumah mamih dari pagi sampai malam dikunjungi kawan-kawan saya. Tetangga komplen, namun mamih selalu baik pada tetangga. Karena itulah semuanya merasa kehilangan mamih.
Setelah saya tak tinggal dirumah mamih. Rumah mamih sunyi. Tetanggapun tak pernah komplen lagi. Sebab tak membuat macet jalanan karena mobil dan motor kawan-kawan saya.
Saya dengar dari kawan saya tentang rumah mamih. "Wah... kalau masih ada anak putrinya nomor satu..rumah Ibu Barnas itu penuh dengan motor dan mobil, bikin macet jalanan saja. Syukurlah dia sudah selesai sekolah jadi tak tinggal sama ibunya. :( . Masih ada sih dua anak perempuannya tapi tak banyak didatangi kawan-kawannya."
Weleh..mamih..mereka tak suka saya karena rumah mamih sering didatangi kawan-kawan saya.
Namun mamih tentunya masih ingat biar saya sudah kerjapun tetap saja kawan-kawan datang berkunjung pada mamih. Malah setelah saya jadi dosenpun masih banyak student-student datang berkunjung kerumah mamih. Hanya skalanya mungkin kecil sehingga tetangga tak banyak komplen.
Wah mamih sayang, dulu saya tak ingin jadi dosen dan setelah saya sekolah di uk dan bertemu dengan salah satu anak didik saya yg menjadi wartawan. Alangkah senangnya. Lalu diapun cerita pada kawan-kawan di Cardiff bila saya sangat disiplin mendidik studentnya. Sampai-sampai kawan saya Djoko Susilo (wartawan Jawapos, mungkin sekarang anggota MPR) bingung masa saya jadi dosen ? Wong kelakuan saja kayak anak-anak. Lalu diapun ceritalah bila saya disekolah ya tak akrab dengan student tapi bila diluar sekolah saya akrab. Weleh buka rahasia betul tuh anak ?
Lalu sayapun teringat pula saat saya sedang dilatih di Megamendung dalam rangka Menwa. Mamih datang menemui senior saya. Danyon Menwa Batalyon VII pun menghargai mamih dan menyayangi Mamih. He..He..Dia bilang tak pernah melihat seorang ibu begitu perhatiannya pada anak putrinya. Pantas saja putrinya sifatnya macam ibunya..he..he.. galak !
Danyon Menwa Batalyon 1 pun bingung lihat mamih kasih suport saat saya diberangkatkan untuk jurit malam. Tak diberi kesempatan untuk bertemu mamih :). Sampai saat pelantikan bukannya saya yang diselamati malah mamih :)
Saat Prof Rachmat telah menyelesaikan PhDnya lalu mengucapkan terima kasih pada mamih dan bapak saya. Mamih hanya tersenyum. Beliau kagum sebab mamih telah mendidik kedisiplinan yg kuat sehingga Prof Rachmat hanya mempercayai saya sebagai asistennya. Saya teringat betapa susahnya dapat nilai 50 untuk mineralogy dari Prof Rachmat. Nah sekarang saya asistennya pula.
Mamih masih ingatkah dengan asistennya Prof Satari ( Basuki), yang sering bersilat lidah dengan Prof Rachmat ? Mamih selalu menertawakan Basuki bila Basuki naik pitam karena ulah Prof Rachmat.
Tak ada orang tua yang suka mengantar jemput anak gadisnya yang sudah bekerja kata Mbak Anna. Masa Betty sudah bekerja di BPPT lalu diperbantukan di PT Bahagia Agung dan IPB pula masih suka dijemput ibu -bapaknya. Apa tak malu ?
Lalu saat saya jadi asisten Dr Padmono di UNPAK. Mamih dan bapakpun sering jemput pula.
Sampai-sampai saya dikira anak bungsu. Weleh..
Mamih mengajarkan saya tak gentar dengan siapapun. Saya berkali-kali menghadap pejabat karena pekerjaan saya. Sampai-sampai Pak Habibie saat saya pamit untuk sekolah, beliau tanya keadaan mamih.
Pukul 7 malam hari terakhir saya di BPPT, saya bertemu di lift dengan pak habibie. Beliau berkata kok masih belum berangkat ? Cepat pulang ya ! Itulah pertemuan terakhir saya dengan Pak Habibie. Lalu Asistennya Pak Rubianto berkata pula. Wah masih beah di jakarta ya :) Lalu kamipun bersalaman dan Pak Habibie menepuk-nepuk bahu saya lalu berbicara dengan Amanda Katili. Sayapun titip salam untuk bapaknya Amnda sebab saya pernah bertemu.Wah mamih tanpa bimbinganmu saya jadi orang penakut. Takut bicara dan mengemukan pendapat dengan orang apalagi dengan pejabat.
Saya ingat perjanjian yg harus ditandatangani Prof Parangtopo (UI) dan Bppt (Prof. Habibie), membuat saya stress. Untungnya Prof Satari banyak menolong saya. Tanpa suport mamih saya tak akan macam ini. Teguh dengan pendirian dan prinsif.
Saat saya menghadap ke Pt Kalbe Farma karena saya harus menandatangani perjanjian bantuan pada saya untuk beli buku selama saya belajar. Beliau bilang didikan mamih keras sekali. Saya hanya mengiyakan saja sebab saya bingung juga kok mereka tahu mamih. Rupanya Ibu Ainun Habibie beri tahu tentang mamih. Sebab dia tanya juga hubungan mamih dengan Ua Sarwono ?
Kemanapun saya pergi mamih selalu memberi pesan dan nasehat yang susah dijabarkan saat itu oleh saya. Namun setelah saya jauh dari mamih barulah saya dapat menjabarkan makna pesan dan nasehat mamih itu.
Selalu mamih berkata mamih tak mau mewarisi saya dengan harta sebab bila saya dikasih harta, bila tak dapat mengunakannya akan jatuh sengsara. Namun bila mamih mewarisi saya dengan ilmu. Dimanapun saya berada dapat saya gunakan. Ilmu tidak dapat dicuri. Selalu berada dalam gegaman saya.
Oh mamih benar itu. karena itulah saya pergi jauh untuk menimba ilmu.
Mamih berharap ilmu saya dapat berguna untuk bangsa, negara dan agama. Insya Allah mamih !
Mamih berharap agar saya dapat hidup dengan baik dan diterima dimasyarakat dengan baik.
Mamih berkata bila hidup saya tak dapat diterima dimasyarakat, mamihlah yang bersalah sebab telah gagal mendidik putrinya.
Oh Mamih..saya ingin memperlihatkan pada mamih, saya dan Amir dapat hidup dengan baik dan diterima oleh masyarakat. Jadi mamih tak pernah gagal mendidik putrinya.
Bila saya teringat saat saya pergi ke Jepang mamih suport pula. Lalu saat saya pergi ke Cardiffpun mamih suport pula. Saya ingat saat saya bicara di airport . Prof Rachmat yang ikut mengantarkan kepergian saya untuk sekolah ke cardiff bertanya apa pesan Pak Habibie dan Pak Satari pada saya ? Saya cerita didepan mamih pesan Prof Habibie, Prof Satari, Prof Sitoresmi, Prof Nasution dllnya. Dan saya lihat mamih berlinang air mata. Saya tak pernah melihat mamih sedih. Saat itulah terlihat mamih begitu sedih. Sayapun bersayonaralah pada mamih. dan Bapak saya serta orang-orang yang mengantar saya ke bandara. Uh..sedihnya meninggalkan mamih yang bercucuran air mata.
Setelah di Cardiffpun supervisor sayapun kagum dengan mamih. Saat saya beritahu mamih telah berpulang kepangkuan Allah SWT. Kawan-kawan di departement earthsciencepun sedih. Betapa bermaknanya mamih untuk saya dan organisasi student. Tanpa bimbingan dan teladan serta suport mamih mungkin tak ada apa-apanya kami ini.
Oh Mamih sayang..keberhasilan didikan mamih mulai terlihat. Namun mamih tak dapat melihatnya.
Banyak orang merasa kehilangan mamih sebab mamih orang baik. Mamih banyak ide. Mamih tak pernah patah semangat. Mamih pelita hati kami. Mamih berkata pada saya dan kawan-kawan saya, untuk meraih PHD itu bukan saja kita harus pandai tetapi kita bisa menguasai dan mengatasi problema serta mempunyai kesempatan. Bila kamu bisa mengatasai semua problem dan sedikit kepandaian serta diberi kesempatan tentunya kau dapat meraih PhD. Mamih yakin itu.
Benar mamih tidur saja saya hanya 2- 4 jam setiap hari. Untungnya saya sudah biasa dengan didikan mamih ala orang belanda. Tepat waktu dan pegang teguh prinsif. He..he..
Nah Mamih..terima kasih dan sayang saya tak terhingga atas pengorbanan mamih selama hidupnya untuk anak perempuannya yang mamih sayangi. Kerjaannya belajar tak pernah mau bantu mamih didapur, sampai adik lelaki saya memanggil saya " Ratu Kuong". Mamih hanya tersenyum saja. "Adik saya protes kok Ratu Kuong tak pernah kerja tapi sering dikasih uang terus sama mamih". Mamih tak adil..! Kasihan mamih dapat protes dari adik-adik saya.
Setelah saya menikah barulah saya belajar memasak sebab dulu saat kecil, saya tak pernah kerja didapur. Maklum mamih saya punya pembantu..jadi anak gadisnya pemalas :(
Bapak saya sampai bilang saya salah sekolah. Harusnya sekolah dibidang parawisata sebab kerjanya kelayaban dari pagi pulang malam. Mainnya hanya dengan lelaki. Weleh...
Rasanya sayalah anak mamih yang paling nakal tapi penurut ya mamih :)
Mohon ampunannya mamih. Saya telah menyusahkan mamih selama saya remaja.
Semoga mamih tetap menemani tidur saya dan menjadi pelita hati dan teladan dalam hidup saya.
Amin Ya Robal Alamin.

1 Comments:
i love my mom too..
sungguh besar pengorbanan Ibu pada kita, putra-putrinya. :)
Tue Oct 05, 05:29:00 pm
Post a Comment
<< Home