Pendidikan Dini membuahkan Jiwa yang Besar
Adik saya Dini mempunyai seorang anak lelaki diberi nama R. Adhyasa Radigta Cahaya Putra. Adi panggilan kesayangannya. Dia tinggal bersama orangtua kami dikarenakan kami sudah tidak tinggal bersama Beliau. Hanya tinggal satu adik saya yang bungsu Ferra yang masih tinggal bersama Beliau. Dengan keberadaan Adi dirumah beliau tentunya Beliau tidak merasa kesunyian lagi. Adi jadilah peripur lara Beliau.
Beliau berdua mendidik cucunya sama dengan cara mendidik kami. Adik saya Ferrapun ikut membantu mendidik keponakannya. Didikan terhadap Adipun menjadi lebih keras dan lebih disiplin. Maklum yang mendidik dirumah jadi tiga orang. he..he..
Adi jadi anak yang penurut dan tahu tata krama. Adi selalu mengikuti peraturan rumah. Adi disekolahpun berpretasi.
Cara mendidik Beliau tehadap cucunya Adi hampir sama dengan cara mendidik kami ketika kecil dahulu. Tidak heran bila Adi banyak menerima penghargaan.
Tak hanya itu jiwa sosialpun terpupuk. Keimananpun terperihara. Banyak orang berdecak kagum terhadap Adi. Bayangkan kecil-kecil sudah bisa jadi imam di rumah Kakeknya.
Pada tanggal 4 Januari 2007 Neneknya telah kembali kepangkuan Allah SWT. Diapun mengerti dan mendoakan Neneknya.
Yang membuat saya bangga sebagai Uanya yaitu jiwa besarnya terpancar dan berbaur dalam sifat tahu harga diri.
Saat saya telepun ke Bapak saya. Kebetulan Adi yang terima. Dia bicara ditelepun. "Ua, jangan nangis. Eyang Uti (maksudnya Eyang Putri) sangat sayang dengan Ua. Jangan nangis ! " lalu diapun meneruskan percakapannya. Ua mau bicara dengan siapa ? Disini ada Eyang Uta (Maksudnya Eyang Putra), Oom Iceu, Ate Muti, Ate Fifi. Lalu diapun terus pergi sambil bilang bye Ua"
Lalu anak perempuannya adik saya Iceu (Eri Kecil) yaitu R. Amelia Angelina (Angel), yang berumur tiga tahun. Kalau menerima telepun dari saya langsung dia bicara " How are you Ua ?" Saya jawab "I am fine and You ?" . Dia berceloteh lagi "Fine, Thank you ! ". Amir suami sayapun ikut berceloteh pula menggoda Angel.
Apabiila kami menyempatkan diri bertelepun kepada keluarga kami di Bogor, orangtua kami tak lupa menceritakan semua keadaan cucunya, maklum kami berdua belum dipercayai mempunyai momongan.
Cucunya dari anak lelakinya Chandrapun yaitu R. M. Jibril Semiaji (Aji), R. M. Bayu Budiman (Bayu) dan R. Chandralela Srirejeki (Eneng Kiki) menjadi bahan cerita yang membuat kami di cardiff tertawa terbahak-bahak karena Beliau menceritakan tingkahnya yang lucu.
Bapak sayapun berceritalah tentang Bagaimana semua cucunya telah tahu berterimakasih dan memperlihatkan kasih sayangnya pada Neneknya yang telah dipanggil oleh Allah SWT.
Kebiasaan Beliau yaitu selalu menjemput dan mengantar kami kesekolah masih tetap diperihara. Terlebih sekarang Beliau hanya mengurusi seorang cucunya yang kebetulan tinggal bersama Beliau. Jadi seluruh perhatian dan kasih sayang Beliau tertumpu pada Adi yang berusia sembilan tahun..
Suatu hari Adi minta izin jangan dijemput oleh Kakeknya sebab dia mau main kerumah temannya. Adi berjanji bila Adi selesai bermain, dia akan telepun kakeknya. Kemungkinan Kakeknya tidak tahu alamat temannya Adi, akhirnya Kakeknya tidak dapat menjemputnya. Adipun pulanglah seorang diri kerumah tanpa ditemani kakeknya. Kakeknya dijalan berdoa semoga cucunya telah tiba dirumah dengan selamat. Betul saja Adi sudah sampai dirumah dengan selamat. Tantenya Ferra sudah mau marah kepadanya disebabkan Adi berbicara Adi tidak punya uang. Lho bisa pulang bagaimana bila tidak ada uang ?. Rupanya uang jajannya yang sebesar Rp 7000 itu dia belikan bunga dan air mawar. Dia diam-diam menengok pusara neneknya bersama kawan-kawannya. Dia bilang "Nisan Nenek kotor penuh tanah. Adi cuci dan bersihkan dengan air mawar". Lalu Adi pulang. Karena hujan Adi meneduh di warung, orang diwarung kasih Adi uang Rp1000 untuk naik kendaraan pulang kerumah .
Saya mendengar cerita tentang Adi dari Beliau, sungguh terharu. Kebiasaan kami interopeksi pada diri sendiri. "Anak umur sembilan tahun saja sudah tahu harga diri, sudah pandai berterimakasih, memperlihatkan kasih sayang dan perhatiannya pada Neneknya. Lalu Kami yang dididik dari kecil sampai besar masa tidak tahu berterimakasih ? Adi hanya Cucunya. Sedangkan kami adalah putra-putrinya Beliau berdua".
Terimakasih Adi, Ua Neneng ucapkan. Adi telah menyayangi dan mencintai Eyang Putri seperti Ua. Ua doakan semoga Adi menjadi cucu Eyang Putri yang soleh. Jangan lupa selalu mendoakan Eyang Putri dan Eyang Putra juga mamah dan papah ya ! Semoga cita-cita Adi menjadi dokter tercapai. Jangan lupa belajar yang rajin agar kelak Adi menjadi orang yang berguna bagi Bangsa, Negara dan Agama.
Beliau berdua mendidik cucunya sama dengan cara mendidik kami. Adik saya Ferrapun ikut membantu mendidik keponakannya. Didikan terhadap Adipun menjadi lebih keras dan lebih disiplin. Maklum yang mendidik dirumah jadi tiga orang. he..he..
Adi jadi anak yang penurut dan tahu tata krama. Adi selalu mengikuti peraturan rumah. Adi disekolahpun berpretasi.
Cara mendidik Beliau tehadap cucunya Adi hampir sama dengan cara mendidik kami ketika kecil dahulu. Tidak heran bila Adi banyak menerima penghargaan.
Tak hanya itu jiwa sosialpun terpupuk. Keimananpun terperihara. Banyak orang berdecak kagum terhadap Adi. Bayangkan kecil-kecil sudah bisa jadi imam di rumah Kakeknya.
Pada tanggal 4 Januari 2007 Neneknya telah kembali kepangkuan Allah SWT. Diapun mengerti dan mendoakan Neneknya.
Yang membuat saya bangga sebagai Uanya yaitu jiwa besarnya terpancar dan berbaur dalam sifat tahu harga diri.
Saat saya telepun ke Bapak saya. Kebetulan Adi yang terima. Dia bicara ditelepun. "Ua, jangan nangis. Eyang Uti (maksudnya Eyang Putri) sangat sayang dengan Ua. Jangan nangis ! " lalu diapun meneruskan percakapannya. Ua mau bicara dengan siapa ? Disini ada Eyang Uta (Maksudnya Eyang Putra), Oom Iceu, Ate Muti, Ate Fifi. Lalu diapun terus pergi sambil bilang bye Ua"
Lalu anak perempuannya adik saya Iceu (Eri Kecil) yaitu R. Amelia Angelina (Angel), yang berumur tiga tahun. Kalau menerima telepun dari saya langsung dia bicara " How are you Ua ?" Saya jawab "I am fine and You ?" . Dia berceloteh lagi "Fine, Thank you ! ". Amir suami sayapun ikut berceloteh pula menggoda Angel.
Apabiila kami menyempatkan diri bertelepun kepada keluarga kami di Bogor, orangtua kami tak lupa menceritakan semua keadaan cucunya, maklum kami berdua belum dipercayai mempunyai momongan.
Cucunya dari anak lelakinya Chandrapun yaitu R. M. Jibril Semiaji (Aji), R. M. Bayu Budiman (Bayu) dan R. Chandralela Srirejeki (Eneng Kiki) menjadi bahan cerita yang membuat kami di cardiff tertawa terbahak-bahak karena Beliau menceritakan tingkahnya yang lucu.
Bapak sayapun berceritalah tentang Bagaimana semua cucunya telah tahu berterimakasih dan memperlihatkan kasih sayangnya pada Neneknya yang telah dipanggil oleh Allah SWT.
Kebiasaan Beliau yaitu selalu menjemput dan mengantar kami kesekolah masih tetap diperihara. Terlebih sekarang Beliau hanya mengurusi seorang cucunya yang kebetulan tinggal bersama Beliau. Jadi seluruh perhatian dan kasih sayang Beliau tertumpu pada Adi yang berusia sembilan tahun..
Suatu hari Adi minta izin jangan dijemput oleh Kakeknya sebab dia mau main kerumah temannya. Adi berjanji bila Adi selesai bermain, dia akan telepun kakeknya. Kemungkinan Kakeknya tidak tahu alamat temannya Adi, akhirnya Kakeknya tidak dapat menjemputnya. Adipun pulanglah seorang diri kerumah tanpa ditemani kakeknya. Kakeknya dijalan berdoa semoga cucunya telah tiba dirumah dengan selamat. Betul saja Adi sudah sampai dirumah dengan selamat. Tantenya Ferra sudah mau marah kepadanya disebabkan Adi berbicara Adi tidak punya uang. Lho bisa pulang bagaimana bila tidak ada uang ?. Rupanya uang jajannya yang sebesar Rp 7000 itu dia belikan bunga dan air mawar. Dia diam-diam menengok pusara neneknya bersama kawan-kawannya. Dia bilang "Nisan Nenek kotor penuh tanah. Adi cuci dan bersihkan dengan air mawar". Lalu Adi pulang. Karena hujan Adi meneduh di warung, orang diwarung kasih Adi uang Rp1000 untuk naik kendaraan pulang kerumah .
Saya mendengar cerita tentang Adi dari Beliau, sungguh terharu. Kebiasaan kami interopeksi pada diri sendiri. "Anak umur sembilan tahun saja sudah tahu harga diri, sudah pandai berterimakasih, memperlihatkan kasih sayang dan perhatiannya pada Neneknya. Lalu Kami yang dididik dari kecil sampai besar masa tidak tahu berterimakasih ? Adi hanya Cucunya. Sedangkan kami adalah putra-putrinya Beliau berdua".
Terimakasih Adi, Ua Neneng ucapkan. Adi telah menyayangi dan mencintai Eyang Putri seperti Ua. Ua doakan semoga Adi menjadi cucu Eyang Putri yang soleh. Jangan lupa selalu mendoakan Eyang Putri dan Eyang Putra juga mamah dan papah ya ! Semoga cita-cita Adi menjadi dokter tercapai. Jangan lupa belajar yang rajin agar kelak Adi menjadi orang yang berguna bagi Bangsa, Negara dan Agama.

2 Comments:
Asalamualaikum...
Salam kenal Pak, Bu. Saya ingin minta ijin untuk mengutip cerita Bapak/ibu di blog saya...saya sangat terinspirasi oleh tulisan bapak/ibu ini.
Teruslah menulis...jangan berhenti...
Tue Sept 30, 09:53:00 am
Salam.
sungguh cerita yg bijak dan menjadi pembelajaran tersendiri bagi saya. saya terharu akan kisah dik Adi yg sangat sayang dengan nenek nya. Semoga Adi kelak menjadi anak yg sholeh dan membuat eyang uti nya bangga.
Salam sayang untuk Adi. xxx
Tue Oct 05, 05:08:00 pm
Post a Comment
<< Home