Tuesday, January 23, 2007

Pendidikan Dini membuahkan Jiwa yang Besar

Adik saya Dini mempunyai seorang anak lelaki diberi nama R. Adhyasa Radigta Cahaya Putra. Adi panggilan kesayangannya. Dia tinggal bersama orangtua kami dikarenakan kami sudah tidak tinggal bersama Beliau. Hanya tinggal satu adik saya yang bungsu Ferra yang masih tinggal bersama Beliau. Dengan keberadaan Adi dirumah beliau tentunya Beliau tidak merasa kesunyian lagi. Adi jadilah peripur lara Beliau.

Beliau berdua mendidik cucunya sama dengan cara mendidik kami. Adik saya Ferrapun ikut membantu mendidik keponakannya. Didikan terhadap Adipun menjadi lebih keras dan lebih disiplin. Maklum yang mendidik dirumah jadi tiga orang. he..he..

Adi jadi anak yang penurut dan tahu tata krama. Adi selalu mengikuti peraturan rumah. Adi disekolahpun berpretasi.
Cara mendidik Beliau tehadap cucunya Adi hampir sama dengan cara mendidik kami ketika kecil dahulu. Tidak heran bila Adi banyak menerima penghargaan.
Tak hanya itu jiwa sosialpun terpupuk. Keimananpun terperihara. Banyak orang berdecak kagum terhadap Adi. Bayangkan kecil-kecil sudah bisa jadi imam di rumah Kakeknya.

Pada tanggal 4 Januari 2007 Neneknya telah kembali kepangkuan Allah SWT. Diapun mengerti dan mendoakan Neneknya.
Yang membuat saya bangga sebagai Uanya yaitu jiwa besarnya terpancar dan berbaur dalam sifat tahu harga diri.
Saat saya telepun ke Bapak saya. Kebetulan Adi yang terima. Dia bicara ditelepun. "Ua, jangan nangis. Eyang Uti (maksudnya Eyang Putri) sangat sayang dengan Ua. Jangan nangis ! " lalu diapun meneruskan percakapannya. Ua mau bicara dengan siapa ? Disini ada Eyang Uta (Maksudnya Eyang Putra), Oom Iceu, Ate Muti, Ate Fifi. Lalu diapun terus pergi sambil bilang bye Ua"

Lalu anak perempuannya adik saya Iceu (Eri Kecil) yaitu R. Amelia Angelina (Angel), yang berumur tiga tahun. Kalau menerima telepun dari saya langsung dia bicara " How are you Ua ?" Saya jawab "I am fine and You ?" . Dia berceloteh lagi "Fine, Thank you ! ". Amir suami sayapun ikut berceloteh pula menggoda Angel.

Apabiila kami menyempatkan diri bertelepun kepada keluarga kami di Bogor, orangtua kami tak lupa menceritakan semua keadaan cucunya, maklum kami berdua belum dipercayai mempunyai momongan.

Cucunya dari anak lelakinya Chandrapun yaitu R. M. Jibril Semiaji (Aji), R. M. Bayu Budiman (Bayu) dan R. Chandralela Srirejeki (Eneng Kiki) menjadi bahan cerita yang membuat kami di cardiff tertawa terbahak-bahak karena Beliau menceritakan tingkahnya yang lucu.

Bapak sayapun berceritalah tentang Bagaimana semua cucunya telah tahu berterimakasih dan memperlihatkan kasih sayangnya pada Neneknya yang telah dipanggil oleh Allah SWT.

Kebiasaan Beliau yaitu selalu menjemput dan mengantar kami kesekolah masih tetap diperihara. Terlebih sekarang Beliau hanya mengurusi seorang cucunya yang kebetulan tinggal bersama Beliau. Jadi seluruh perhatian dan kasih sayang Beliau tertumpu pada Adi yang berusia sembilan tahun..

Suatu hari Adi minta izin jangan dijemput oleh Kakeknya sebab dia mau main kerumah temannya. Adi berjanji bila Adi selesai bermain, dia akan telepun kakeknya. Kemungkinan Kakeknya tidak tahu alamat temannya Adi, akhirnya Kakeknya tidak dapat menjemputnya. Adipun pulanglah seorang diri kerumah tanpa ditemani kakeknya. Kakeknya dijalan berdoa semoga cucunya telah tiba dirumah dengan selamat. Betul saja Adi sudah sampai dirumah dengan selamat. Tantenya Ferra sudah mau marah kepadanya disebabkan Adi berbicara Adi tidak punya uang. Lho bisa pulang bagaimana bila tidak ada uang ?. Rupanya uang jajannya yang sebesar Rp 7000 itu dia belikan bunga dan air mawar. Dia diam-diam menengok pusara neneknya bersama kawan-kawannya. Dia bilang "Nisan Nenek kotor penuh tanah. Adi cuci dan bersihkan dengan air mawar". Lalu Adi pulang. Karena hujan Adi meneduh di warung, orang diwarung kasih Adi uang Rp1000 untuk naik kendaraan pulang kerumah .

Saya mendengar cerita tentang Adi dari Beliau, sungguh terharu. Kebiasaan kami interopeksi pada diri sendiri. "Anak umur sembilan tahun saja sudah tahu harga diri, sudah pandai berterimakasih, memperlihatkan kasih sayang dan perhatiannya pada Neneknya. Lalu Kami yang dididik dari kecil sampai besar masa tidak tahu berterimakasih ? Adi hanya Cucunya. Sedangkan kami adalah putra-putrinya Beliau berdua".

Terimakasih Adi, Ua Neneng ucapkan. Adi telah menyayangi dan mencintai Eyang Putri seperti Ua. Ua doakan semoga Adi menjadi cucu Eyang Putri yang soleh. Jangan lupa selalu mendoakan Eyang Putri dan Eyang Putra juga mamah dan papah ya ! Semoga cita-cita Adi menjadi dokter tercapai. Jangan lupa belajar yang rajin agar kelak Adi menjadi orang yang berguna bagi Bangsa, Negara dan Agama.


Pendidikan di Rumah merupakan Pondamen yang Kuat

Salah satu Motto dikeluarga kami adalah " Sedia payung sebelum hujan ".
Saat itu kami tak tahu funggsinya motto tsb. Yang kami ingat kami harus melakukan rutinitas berdasarkan skedul yang sudah kedua orang tua kami persiapkan untuk kami. Jadi kegiatan setiap hari yang kami lakukan harus berdasarkan jadwal alias skedul. Bila kami menyalahi peraturan tentu saja kami mendapat hukuman.

Pendidikan dirumahpun kedua orangtua kami mengajarkan pendidikan yang advance. Baik itu pendidikan didalam rumah, dilingkungan sekolah maupun dalam bidang keagamaan.

Saya teringat saat saya duduk disekolah dasar, Beliau mengajarkan saya pengetahuan setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama/SMP. Begitu juga saat saya duduk di tingkatan SMP, Beliau mengajarkan saya pengetahuan setingkat dengan Sekolah Menengah Atas/SMA.

Sungguh sulit bagi saya saat itu sebab banyak sekali kegiatan berdasarkan skedul yang harus saya lakukan setiap hari. Jadi saya harus pandai membagi waktu antara belajar dirumah, belajar disekolah, melakukan ekra kulikuler dan kegiatan bermain.

Ketika kecil saya sering mendapat hukuman karena kealfaan saya dalam urusan keagamaan. Misalnya saya tidak mengerjakan sembahyang subuh, Beliau menyiram air seember ke tempat tidur saya. Dikarena saya tidak mau bangun untuk mengerjakan sembahyang. Begitu juga bila saat berpuasa pada bulan Ramadhan, bila saya tidak segera bangun saat saya dibangunkan tentunya saya tidak dapat makan pagi. Lalu tidak mau belajar baca Al-Quran bila guru mengaji datang kerumah dsbnya. Hukuman tsb membuat saya jera. Tidak hanya harus membersihkan tempat tidur, lapar dan dahaga karena tidak makan pagi namun kerugian saya bertambah dikarenakan tidak dapat bermain saat waktu bermain, tidak dapat mengikuti kegiatan keluarga dsbnya.

Kedua orangtua saya mempunyai motivasi untuk kami. Bila kami berpretasi disekolah selalu kami mendapat hadiah yang menunjang kegiatan sekolah. Tidak jarang akhirnya diantara kami saling bersaing untuk mencapai kepopuleran dirumah. Siapa yang terpandai dirumah ?

Kedua orangtua kami memanjakan kami dengan pengetahuan dan kasih sayang. tidak jarang uang Beliau habis karena beli buku-buku kami atau membayar kegiatan kami. Karena itu kami semua jadi kutu buku dan sangat menyayangi buku. Jadilah kami pemburu buku. Dimulai dari cerita anak-anak sampai buku pengetahuan. Lalu kamipun jadi punya jiwa petualang dan keingin tahuan yang tinggi tarafnya. Orang tua kamipun memasukkan kami ke klub-klub tertentu berdasarkan motivasi kami. Sayalah anak perempuan Beliau yang paling tomboy. Semua pekerjaan lelaki saya sukai, sebaliknya pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan saya tidak menyukainya. He..he..

Bayangkan tiap minggu naik gunung, pergi ke gua-gua atau ikut perlombaan cros country. Saya ini paling senang ngumpulin bet lalu dijahit dijaket. Rasanya saya bergaya dan punya kekuatan bila memakai jaket dan topi yang banyak simbul organisasinya. Sampai-sampai mamih bilang kamu ini pecinta mati dsbnya. Namanya harum tetapi tidak dapat balik kerumah. Maklumlah kala itu orang yang suka naik gunung sering tidak dapat pulang. Lalu dikoran diberitakan hilang atau meninggal dsbnya. Bapak saya berkata " Saya ambil bidang pelajaran salah, seharusnya saya sekolah dibidang pariwisata" dsbnya. He..he..

Sayapun ikut perkumpulan ini itu sampai-sampai tidak punya waktu dengan keluarga. Weleh nakalnya dihabiskan oleh sendiri. Rumah Beliau tidak habisnya dikunjungi teman-teman. Kasihan mamih tak pernah betistirahat selalu sibuk dengan kawan-kawan saya. Maafkanlah saya mamih sayang !

Beliau tidak pernah mengambil uang jajan kami sepeserpun malah kami diharuskan menabung setiap hari. Uang jajan kami ya untuk kami pergunakan berdasarkan keperluan kami dan keinginan kami sendiri.

Kamipun punya simpanan uang dibotol. Bila kami berbicara kasar atau mengumpat, kami harus menyimpan uang jajan kami dibotol tsb sebagai hukuman karena kami telah berbicara dengan bahasa yang kasar. Uang hasil hukuman itu biasanya Beliau belikan buku-buku agama untuk menunjang pengetahuan kami dalam bidang keislaman.

Karena pendidikan dirumah sangat keras dan disiplin tidak jarang saya menjadi anak bawang dimana-mana. Tidak diperhatikan kehadirannya karena usianya paling kecil dibandingkan dengan usia seluruh kawan-kawannya, namun tidak dapat dipungkiri keberadaannya dikelompok tsb karena kebolehannya. Itulah "Anak Bawang"

Biarpun saya sering menjadi anak bawang, namun kawan-kawan saya memanjakan dan menyayangi saya. Saya mendapat julukan tersendiri yaitu "si Kecil Si Cabe Rawit".

Saya teringat kala saya ditingkat SD dan SMP selalu duduk dibangku depan, persis didepan meja guru saya. Sayapun tidak duduk berdua dengan kawan saya, namun saya duduk diantara kawan-kawan saya. Jadi satu bangku duduk bertiga dikarenakan saya anak bawang. He..he.. Begitu juga dengan seragam sekolah saya, agak lain. Saya pakai seragam yang ada talinya agar baju saya tidak merorot kebawah he..he..Jadi teman-teman Beliau bila berseloroh dengan orangtua saya selalu berkata "Anak Putri Ibu Barnas itu yang mana ?" Lalu Kawannya jawab " Itu yang rambutnya berponi, pakai seragamnya lain dari yang lain. Kecil mungil dan selalu didepan. Jadi Mudah dikenali " Weleh..weleh..

Ketika kecil saya masuk Taman Kanak-Kanak usia 3-5 tahun. Kemudian saya masuk Sekolah Dasar. Usia 6 tahun dan pada usia 10 tahun saya mengikuti ujian

terakhir SD. Usia 11 tahun saya sudah duduk di tingkatan SMP dan usia 16 tahun saya sudah menyelesaikan sekolah tinkatan SMA. Dan Usia 17 tahun saya duduk di tingkat Universiti. Saya ambil dua jurusan yaitu bidang Ekonomi Perusahaan dan Kimia. Kalau pagi saya masuk kuliah di jurusan kimia dan saat sore hari saya masuk kuliah di jurusan ekonomi. Tentunya banyak kesulitan dalam membagi waktu. Tidak jarang berbenturan kuliah dengan kuliah yang utama sehingga harus pandai membagi waktu.

Karena Pendidikan yang advance dirumah. Saya teringat saat saya duduk di kelas satu SMP, saya bisa mengerjakan pekerjaan kakak saya yang saat itu duduk di kelas tiga SMP. Guru kakak saya Pak Achyar tidak percaya dengan kebolehan saya sehingga suatu hari kami berdua dipanggil untuk mengerjakan pekerjaan bersama. Dan Hasilnya sungguh mencengangkan. Kakak saya ada kesalahan sedangkan saya betul semua. Akhirnya Pak Achyar menemui bapak saya dan menceritakan keadaan kami disekolah. Kebetulan sekolah kami sekolah terkenal saat itu. Pembagian kelaspun berdasarkan kepintaran anak. Misalnya Kelas 1a dan 1b itu untuk kelas tingkatan yg agak lamban cara berpikirnya. Kelas 1c dan 1d untuk kelas tingkatan yang sedang cara berpikirnya dan Kelas 1e dan 1f untuk kelas tingkatan yang berpikiran cerdas. Jadi Tingkatan pelajaran tiap kelas berbeda berdasarkan kepintaran. Dikelas yg hanya duduk orang-orang pintar itu sangat tinggi kurikulumnya dari pada kelas yang lain. Misalnya saja semua rumus harus dibuktikan dihafalkan dikelas saya. Jadi bila lupa rumus lalu kita jabarkan dan buktikan tentunya kita akan ingat lagi rumus tsb.

Kedua orang tua kami membiasakan belajar dua kali dalam sehari. Yaitu malam hari kami mengerjakan pekerjaan rumah dan belajar yang tadi pagi dipelajari disekolah. Pagi hari sebelum berangkat sekolah kami mempersiapkan pelajaran yang akan dipelajari disekolah. Sehingga kami faham betul pelajaran apa yg akan dibahas disekolah. Kamipun harus mencatat pertanyaan setiap pelajaran yang tidak kami fahami. Ide apa yang ada dalam pikiran kami saat itupun tidak luput dari kejaran pertanyaan orang tua kami. Lalu kamipun belajar mencari jawabnya diperpustakaan atau perpustakaan kecil kepunyaan keluarga. Dan diskusipun diteruskan diruang keluarga kami yaitu "Ruang Tengah".

Bila kami sudah menyelesaikan tugas rutin kami sebagai pelajar, Beliau selalu mendatangi setiap kamar anaknya dan melihat sendiri apakah kami sudah tidur atau masih belajar. Lalu tiap tengah malam Beliaupun selalu membangunkan kami untuk melakukan sembahyang malam. Begitu perhatiannya Beliau kepada kami. Sampai waktu tidur Beliaupun tersita karena harus menengoki kamar-kamar kami.

Biarpun rutinitas kami padat, tetapi kami dapat bermain layak sesuai dengan usia kami. Hari Minggu adalah hari keluarga kami. Kami diberi kesempatan untuk tidak memikirkan pelajaran kami pada hari itu, sehingga hari Minggu adalah hari yang paling kami tunggu dan kami agungkan. He..he.

Dikarenakan dari kecil rutinitas kami semacam itu. Sudah besarpun menjadi kebiasaan kami. Rasanya tidak enak bila kami tidak mengerjakan kerutinitasan kami.

Kedua orang tua kami mendidik kami dengan cara yg berbeda sebab masing-masing dari anaknya tentunya ada yang cepat menangkap pelajaran atau ada yang lamban menangkap pelajaran. Bila yg lamban menangkap pelajaran. Mamih saya mengajarkan untuk merekamnya istilah-istilah dalam biologi atau untuk kimia dan matematik menempelkan rumus-rumus disemua didinding rumah. Yang paling penuh tempelan dengan rumus-rumus ya dikamar kecil. Sambil duduk merenung diam-diam ya dapat mengingat rumus. Lalu dilangit-langit dan dinding kamar tidur penuh tempelan dengan rumus-rumus pula, biar saat istirahat kami bisa mengingatnya pula. Bayangkan kami harus hafal "periodic table" element kimia sampai bobot atom dan karakternya masing-masing.Misalnya golongan dua yaitu Be, Mg dan Ca. Saya menghafalnya "Betty Mangga Calik", untuk memudahkan menghafal golongan tsb. Lalu untuk Mineralogi lebih parah lagi kami harus pandai menghayal batu-batuan tersebut dilihat dari kiri, kanan, atas bawah dsbnya. Perlu kebiasaan yang rutin dan pengasahan pemikiran yang baik.

Dalam masalah bahasapun kami diberi pengetahuan yang banyak. Kedua orang tua kami sering berbicara memakai bahasa Belanda bila membicarakan kami didepan kami. Biar kami tak tahu apa yang dibicarakan Beliau. Karena sering mendengar satu istilah tentunya kamipun jadi tahu artinya dan mendorong kami untuk mempelajari bahasa Belanda. Ya mamih saya sering mengajari lagu-lagu yang berbahasa Belanda lalu bapak saya sering mengajari lagu-lagu berbahasa Jepang. Jadi setelah besar kami sudah terbiasa dengan dua bahasa tsb. Kami setiap hari diharuskan menghafal 30-50 kata2 bahasa asing dan tidak boleh lupa.

Setelah saya menjadi peneliti barulah saya faham betapa bergunanya pendidikan bahasa dirumah. Saat saya bekerja di BPPT, sayapun dapat berbicara dengan peneliti orang Jepang. Mereka lebih terbuka bicara risetnya dengan bahasa Jepangnya. Begitu juga saat saya menjadi asisten Prof Rachmat di IPB , tidak jarang berdiskusi memakai bahasa Belanda. Saat saya postgradute dan harus menghadiri seminar di Brest (France), sayapun harus dapat berbicara Perancis pula.

Saat mamih masih hidup saya pernah bertanya kenapa mamih bicara dengan bapak selalu bicara bahasa Belanda didepan kami. Biar kami tidak mengerti apa yang dibicarakan Beliau tentang kami begitu jawabannya. Lalu sayapun berceritalah pada Amir suami saya tentang pendidikan kami sekeluarga. Amir lalu berkomentar "Honey, kita berlajar bahasa Wales saja", biar anak-anak kami tidak tahu bila kami bicarakan. :). Ah..ada-ada saja Amir ini. Bahasa Waleskan susah. Iya hanya kita yang mengerti, biar orang lain yang mendengar percakapan kita tidak faham.

Peraturan dirumah orang tua kami bukan peraturan berasal dari Sunda atau Jawa, tetapi peraturan Islam yang dijunjung tinggi oleh keluarga kami. Sehingga saya menikah dengan Amirpun. Peraturan rumah kami peraturan Islam yang dipakai, bukan peraturan Indonesia atau Inggris.

Tata cara mendidik Kedua orang tua kami terhadap kami merupakan touladan bagi kami sebagai generasi penerusnya. Disini terlihat upaya membangun ahlak ,membentuk aspek keimanan, aspek sosial dirumah tangga dan menghilangkan kemungkaran dalam rumah. Sebab rumah tak hanya dapat dipandang dari luar saja tetapi dapat dilihat dari dalam pula. Beliau berpesan pada kami "Usahakan semampu mungkin selalu berada didalam rumah". "Jadikanlah Rumah sebagai kiblat". Sebab pendidikan yang dini berasal dari rumah lalu sekolah dan kemudian lingkungan. Pendidikan dirumah merupakan pondamen yang kuat dan bekal hidup yang paling berharga dalam hidup setiap insan. Dari dasar pendidikan rumahlah terbentuk sosok ayah yang bertanggung jawab, istri yang baik serta anak-anak yang soleh yang tentunya akan berguna bagi bangsa, negara dan agama.

Rasa kagum, bangga dan terima kasih yang tidak terhingga mempunyai orangtua yang telah mendidik kami sehingga kami mampu hidup layak bermasyarakat.

Semoga Allah melimpahkan Rahmatnya, hapuskan segala kehilapannya sebab Beliau tidak pernah menyia-nyiakan kami sebagai harta yang dititipkan Allah SWT kepada Beliau berdua. Beliau menjaga, memerihara kami dengan hati yang tulus iklas. Beliau mendidik kami agar mematuhi kebenaran dan menjauhi hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah SWT.





















Thursday, January 18, 2007

Sekilas Kenangan di Ruang Keluarga

Kebiasaan dirumah kami setelah makan malam, kami selalu berkumpul diruangan keluarga (Ruang Tengah). Kami selalu berkumpul melakukan intropeksi diri masing-masing. Kedua orang tua kami mendengarkan apa yang kami ungkapkan dalam pembicaraan tsb. Beliau menanyakan kebaikan apa yang telah kami lakukan hari ini ? Keburukan apa yang telah kami lakuan pula. Bagaimana mengatasi perbuatan yang tidak baik pada hari ini ? Bagaimana pula cara meningkatkan dan mempertahankan kebaikan untuk hari selanjutnya ? Apa rencana yang akan kami lakukan untuk hari esok?

Selanjutnya Beliau berceramah tentang agama atau berdiskusi tentang hal-hal yang sedang menjadi topik di masyarakat. Kemudian kamipun diberi pesan, kesan, saran, nasehat dan apa harapan Beliau kepada kami. Biasanya Beliau mengambil contoh yang tak jauh dari kehidupan kami sehingga kami dapat mencerna, mengerti, merasakan dan melihat sendiri kebenarannya cerita yang dipersembahkan oleh kedua orang tua kami. Kamipun jadi jera dan takut bila melakukan kesalahan kepada orang tua sebab kami bisa lihat sendiri kasus perkasus. Hukuman apa yang didapat oleh mereka ?



Maklum saat itu kami masih kecil. Kadang-kadang kami mengemukakan pendapat agak beremosi dan tak jarang pake acara bersitegang alias ngotot..He..he..he. Kamipun akhirnya jadi debat kusir. Kemudian kedua orang tua kami menengahi kami dan memberi masukan serta kritik yang membangun kepada kami.



Kedua orang tua kami memperlakukan kami tak hanya sebagai anak saja namun kami diperlakukan setaraf kawan karib. Jadi kami tak pernah sungkan untuk bercerita apa saja dengan beliau. Namun kamipun tidak pernah lupa selalu menghormati beliau sebagai kedua orang tua kami yang kami cintai.



Pendidikan kami didalam rumah sangat disiplin. Bila salah sedikit saja kami dapat hukuman.

Kala itu kami merasakan betapa kuatnya didikkan ala Belanda dalam keluarga kami.

Kami tak tahu dibalik takbir didikkan keras tersebut ada sekelebat harapan dan doa agar kami bertahan hidup dalam segala situasi.

Setelah saya jauh dari kedua orang tua barulah saya memahami indahnya pendidikan yang saya terima dari kedua orang tua saya di ruang keluarga.

Tak dapat saya sebutkan apa saja yang saya dapati dari kebiasaan berkumpul diruang keluarga tsb.

Yang saya rasakan dari hasil pendidikan beliau adalah terpupuk jiwa kepepimpinan, jiwa riset, jiwa satria, rasa percaya diri yang kuat, royal, tak mudah putus asa/ulet, punya rasa penuh tanggung jawab, memetingkan keperluan orang lain diatas keperluan sendiri, tahu harga diri, dapat bernegoisasi dengan baik, bagaimana mengemukakan pendapat, bagaimana cara mengkritik yang membangun, bagaimana cara memerintah orang sehingga orang tidak merasa saya perintahi dsbnya dengan taburan landasan keagamaan yang kuat.



Sekarang kami baru merasakan fungsi pendidikan dari kedua orang tua kami. Semoga kenangan yang indah saat berkumpul diruang keluarga merupakan pendorong bagi anak dan cucu Beliau.

Insya Allah Kami berharap kebiasan berkumpul diruang keluarga ini masih sering dilakukan, walau mamih sudah tidak bersama kami lagi.



Semoga butiran kasih, untaian cinta, pesona harapan dan fatamorgana asa yang mamih wariskan kepada kami tetap terperihara di Bumi Abesin.





Tuesday, January 16, 2007

Sekelumit Kenangan Bersama Mamih Tercinta

Pada tgl 31 Desember 2006, kami berdua diundang oleh keluarga Aunty Nacera asal Argeria untuk bermalam tahun baru bersama anak-anaknya. Tentu saja kami senang mendapat undangan dari Aunty Nacera tsb. Maklum kami belum dipercayai Allah untuk mempunyai momongan.
Karena suami aunty Nacera belum pulang dari tempat kerja tentunya suami saya belum boleh datang menyunjungi rumahnya. Jadi sayalah yang datang lebih dulu kerumah Aunty Nacera. Sebab saya sangat rindu dengan anak2nya yang selalu menyambut ceria bila kami datang.
Karena suami saya sendirian dirumah tentunya dia akan kerja di komputer. Maklum dia hobby sekali duduk didepan komputer untuk memperbaiki web sitenya. Jadi tak mengetahui bila saudara saya dari Indonesia ingin berkomukasi dengan kami untuk mengabarkan bahwa mamih saya yang tercinta dibawa kerumah sakit. Sungguh kami tak tahu sebab line telephon sibuk dipake Amir sehingga kami tak tahu kabar mamih saya masuk rumah sakit.
Setelah suami Aunty Nacera tiba dirumah, suami sayapun datanglah mengunjungi rumah Aunty Nazera. Amir sangat senang dengan penyambutan anak-anak aunty Nazera. Lalu kamipun bermain dan bercandalah dengan keluarga Aunty Nazera terutama dengan anak-anaknya, sehingga amir tak mau pulang bila saya ajak untuk pulang kerumah sebab sudah larut malam.
Tak biasanya saya minta pulang berkali-kali pada Amir. Sampai-sampai Aunty Nazera bilang apa Betty sudah lelah bercanda dengan anak-anaknya ?
Dikarenakan saya selalu minta pulang pada Amir, akhirnya sebelum pukul dua belas malam kamipun pulanglah kerumah, dengan membawa kenangan indah bercanda dan bersukaria bersama anak-anak Aunty Nazera.
Biasanya malam tahun baru kami selalu keluar untuk melihat keadaan kota Cardiff. Entah kenapa saat itu kami tak ada yang berniat untuk melihat-lihat keadaan kota Cardiff.
Biasanya kamipun menyempatkan telephon keluarga kami masing-masing untuk bercerita keadaaan kabar kami. Maklum kami berdua jauh dari sanak famili pula. Namun malam itu kami lelah dan tak ada yang ingat untuk memberi kabar pada keluarga masing-masing. Entah kenapa ?

Esok harinya tanggal 1 Januari 2007 mood sayapun tak bagus juga. Murung dan tak enak hati. Amirpun gundah melihat keadaan saya. Dia berusaha menghibur saya, namun tetap saja saya sedih.

Tanggal 2 Januari 2007 mood saya lebih tak bagus lagi, tiba-tiba menangis tanpa sebab. Amirpun ikut sedih sebab tak biasanya saya bersedih. Amir pikir mood saya berubah karena hormon saya. He..he..he. Maklumlah perempuan selalu mood berubah setiap saat.

Tanggal 3 Januari 2007 mood saya agak baik sehingga Amir tak gundah lagi dengan keadaan saya. Lalu malam harinyapun saya tidur terlena, tanpa ada gangguan untuk spent a penny. Biasanya saya selalu bangun setiap pukul dua malam untuk melakukan sholat atau spent a penny. Malam itu kami berdua tak ada yang bangun. Tidur lelap dalam kehangatan malam.
Rupanya saat itulah mamih saya yang tercinta telah kembali kepada pangkuan allah SWT.

Esok harinya tanggal 4 Januari 2007 amir mulai melakukan tugas rutinnya yaitu pergi ke kantor untuk bekerja. Sayapun mengantarkan Amir sampai didepan pintu kantornya. Entah kenapa hari itu saya minta izin untuk seharian pergi kepada Amir untuk meeting dengan kawan saya. Tak biasanya saya begitu. Walaupun kami berdua berpuasa tetap saya pulang kerumah pada siang harinya. Maklum kebiasaan kami berdua selalu makan siang bersama dan melakukan sholat bersama.
Sayapun pergilah meeting dengan kawan-kawan saya. Kabiasaan kami melakukan sholat Duha bersama sebelum melakukan meeting. Entah kenapa saya bulak-balik ambil wudhu, seolah-olah saya ini tak sempurna melakukan wudhu. Rupanya saat itulah mamih saya tersayang telah dikebumikan, Namun saya tak tahu keadaan mamih saya.
Disaat meetingpun entah kenapa saya tertidur tak biasanya saya tidur saat meeting. Kawan-kawan sayapun berguraulah. Wah..Betty nih pasti sedang berisi sebab tak biasanya tidur dalam meeting dan tak sepatahpun terdengar suaranya. Saya hanya tersenyum.
Setelah meeting sayapun mengunjungi rumah kawan saya. Maklum rumahnya kawan saya itu dekat dengan kantornya Amir. Rupanya suami saya pada pukul dua siang telah mendapat kabar sedih dari adik saya Dini yang mengabarkan bahwa mamih kami telah dipanggil oleh Allah SWT. sUami saya Amir terperanjat dan menangis. Lalu Amirpun mencari saya dan berusaha mengontak saya kerumah kawan-kawan saya. Anehnya setiap saya angkat telephon dirumah kawan saya itu tak ada suara. Jadi kamipun tak menghiraukan telephon yang berdering dari suami saya untuk mengabari saya tentang keadaan keluarga saya.
Tepat pukul lima sore sayapun datanglah kekantor Amir untuk menjemputnya. Tiba-tiba saya lihat muka amir sungguh sedih. Dimatanya terlihat air menitik, seperti menangis. Sayapun sedikit gundah. Ada apa dengan Amir ? Dia lalu merangkul saya dan mengajaknya keruangan tempat kerjanya. Lalu dia berkata perlahan dan mengabari tentang keluarga saya sambil menangis. Saya sungguh terkejut. Tak keluar air matapun. Bingung dan gelisah. Lalu kamipun pulanglah kerumah. Diperjalanan barulah saya menangis sejadi-jadinya. Tiba dirumah sayapun cepat mengontak keluarga saya. Dan barulah saya percaya dengan kabar berita itu. Rupanya saat saya telephon ke Indonesia mereka sudah selesai melakukan tahlil. Amirpun mengabari keluarga besarnya tentang mamih saya. Merekapun terkejut semua.
Kami berdua menangis tak henti-hentinya sebab sangat menyayangi dan mencintai mamih. Terutama Amir sangat sayang dan cinta pada mamih saya. Apa pesan dan nasehat mamih yang dilontarkan pada Amir, Amir ikuti. Saya teringat bila mamih saya sakit, Amir sering diam-diam berdoa untuk mamih saya.
Setelah sedu sedan kami berdua reda, kamipun melakukan doa bersama untuk mamih.

Tanggal 5 Januari 2007 sampai tanggal 10 Januari 2007 Amirpun ambil cuti untuk menemani saya dan melakukan doa bersama untuk mamih tercinta.
Mamih sayang, Amir sangat menyayangimu dan mencintaimu. Setiap habis sembahyang dia baca yasin untuk mamih sambil berlinang air mata. Amir minta maaf tak dapat menemui mamih dan merawat mamih dikala sakit karena pekerjaannya, begitulah gunamnya yang saya dengar.
Apalagi saya mamih. Merintih dan sedih tak dapat menemui dan merawat mamih dikala sakit.

Tanggal 5 Januari 2007 pagi Amir mengubungi beberapa imam di beberapa mesjid untuk memberi tahu kabar sedihnya., dengan niat agar mamih didoakan bersama saat melakukan sholat jumat dimasing-masing mesjid. Lalu kami berduapun pergi kemesjid terdekat untuk melakukan sembahyang Jumat. Rupanya sampai waktu asharpun saya dengar mereka melakukan doa bersama untuk mamih saya. Oh sungguh beruntungnya mamih..!

Mamih sayang, banyak orang yang tak mengenali mamih namun mereka suka rela mendoakan mamih. Sayapun terkejut pula saat imam mengumumkan nama mamih dan kawan-kawan sayapun terkejut dengan kabar tsb. Banyak yang menangisi kepergian mamih. Sebab saya sering cerita kepada kawan-kawan saya siapa mamih saya tersayang ini. Lalu sayapun berceritalah bagaimana mamih dipanggil Allah SWT. Merekapun menangis sambil berusaha menghibur saya. Mereka bilang mamih orang sholeh dan baik sehingga diberi kemudahan dalam segala hal.

Setelah selesai sholat Ashar. Tiba-tiba ada beberapa orang asal Somali dan Saudi Arabia menghampiri saya. Saya tak mengenalinya. Lalu orang Somali itu mencium kening saya dan menanyakan siapa nama mamih, nama kakak saya dan nama nenek saya. Sayapun menjawablah sambil sedikit bingung sebab tak tahu maksud pertanyaan yang mereka lontarkan.
Mereka baru seminggu tinggal di Cardiff. Lalu berniat ingin mendoakan mamih, kenapa mereka tanya nama-nama keluarga saya. Saya bertanya pula pada mereka sebab mereka tak mengenal mamih. Apa jawaban yang mereka berikan pada saya mamih sayang ?
"Selama seminggu kami berkunjung ke mesjid Darul Isra. Tak ada sister macam kamu yang memberi salam lalu mendatangi satu persatu orang yang berada diseluruh ruangan, baik anak-anak maupun orang dewasa. Mau pulangpun kamu melakukan hal yang sama pula. Dan kami lihat semua orang diruangan menyukaimu dan menyambutmu dengan pelukan dan menanyakan kabar kamu. Lalu kami lihat kamu duduk dan melakukan sembahyang sunat. Kami senang melihat kamu memperlakukan kami seolah-olah kamu mengenal kami. Kami tak ada yang menyalami sebelumnya. Kami terpesona dengan caramu. Tentunya kamu mendapat pelajaran dan didikan yang baik dari keluargamu. Apalagi kami dengar imam mengumumkan nama ibumu untuk didoakan bersama dikaitkan dengan namamu dan suamimu. Lalu kawan-kawanmupun menangis.
Tentunya mereka jatuh sayang kepadamu karena budi bahasamu. Mereka melihat siapa dirimu ? Tentunya ibunya lebih baik budi bahasa serta perilakunya dari anaknya. Anak perempuannya saja disukai orang apalagi ibunya ?
Karena itu izinkanlah kami melakukan tahlil di perkumpulan Somali kami. "
Mereka menciumi kening saya lalu memberi nasehat satu persatu dan mengajak saya mengikuti pengajian diperkumpulannya.

Oh..mamih sayang..betul nasehat dan didikan mamih dari kecil pada saya tentang cara hidup bermasyarakat. Mamih saat itu berkata sulit untuk bisa hidup bermasyarakat. Pandai dan mempunyai kedudukan bukan jaminan untuk dapat diterima dimasyarakat. Harus pandai membawa diri. Tahu Harga diri. Jangan menepuk didada orang lain, tetapi bertepuklah pada dada sendiri. Saya baru memahami setelah saya jauh dari mamih. Ternyata saya tak diperbolehkan menaruh nama bapak sendiri dibelakang nama saya karena mamih ingin mendidik saya untuk menjadi diri sendiri. Karena kalau dibelakang nama saya ditaruh nama bapak saya tentunya orang akan tahu siapa saya ? Dan diberi kemudahan untuk cari kerja dsbnya. Karena itulah saya baru teringat saat saya menjadi intruktur organisasi tak ada yang tahu bahwa bapak saya ada disebelah saya. Lalu mamihpun menyarankan saya agar saya jadi guru atau dosen saat saya masih belum tamat akademi saya. Dari situlah saya belajar mendidik, mengerti jiwa orang lain, mengutamakan kepemntingan umum dsb.
Mamih tak pernah memaksa saya untuk berbuat yang saya tak sukai. Namun bila saya menyukai sesuatu mamih selalu menyokongnya. Saya teringat rumah mamih dipenuhi oleh kawan-kawan saya karena saya buat band dan kegiatan lain. Mamihpun membuat kawan-kawan betah mengunjungi rumah mamih. Semua kawan saya memanggilmu mamih pula. Lalu bila mamih masakpun kawan-kawan saya menemani mamih dengan kiriman lagu-lagu dari radio. Mamih selalu dapat kiriman lagu dan pesan dari penyiar sebab semua kawan saya jadi penyiar :) Mamih hanya tersenyum bila mereka berpesan " yang enak masaknya mamih, nanti sore kami datang ". Pembantupun dibuat sibuk pula.

Saya teringat rumah mamihpun sering bising karena latihan band. Sampai tetangga marah karena rumah mamih dari pagi sampai malam dikunjungi kawan-kawan saya. Tetangga komplen, namun mamih selalu baik pada tetangga. Karena itulah semuanya merasa kehilangan mamih.
Setelah saya tak tinggal dirumah mamih. Rumah mamih sunyi. Tetanggapun tak pernah komplen lagi. Sebab tak membuat macet jalanan karena mobil dan motor kawan-kawan saya.

Saya dengar dari kawan saya tentang rumah mamih. "Wah... kalau masih ada anak putrinya nomor satu..rumah Ibu Barnas itu penuh dengan motor dan mobil, bikin macet jalanan saja. Syukurlah dia sudah selesai sekolah jadi tak tinggal sama ibunya. :( . Masih ada sih dua anak perempuannya tapi tak banyak didatangi kawan-kawannya."
Weleh..mamih..mereka tak suka saya karena rumah mamih sering didatangi kawan-kawan saya.
Namun mamih tentunya masih ingat biar saya sudah kerjapun tetap saja kawan-kawan datang berkunjung pada mamih. Malah setelah saya jadi dosenpun masih banyak student-student datang berkunjung kerumah mamih. Hanya skalanya mungkin kecil sehingga tetangga tak banyak komplen.

Wah mamih sayang, dulu saya tak ingin jadi dosen dan setelah saya sekolah di uk dan bertemu dengan salah satu anak didik saya yg menjadi wartawan. Alangkah senangnya. Lalu diapun cerita pada kawan-kawan di Cardiff bila saya sangat disiplin mendidik studentnya. Sampai-sampai kawan saya Djoko Susilo (wartawan Jawapos, mungkin sekarang anggota MPR) bingung masa saya jadi dosen ? Wong kelakuan saja kayak anak-anak. Lalu diapun ceritalah bila saya disekolah ya tak akrab dengan student tapi bila diluar sekolah saya akrab. Weleh buka rahasia betul tuh anak ?

Lalu sayapun teringat pula saat saya sedang dilatih di Megamendung dalam rangka Menwa. Mamih datang menemui senior saya. Danyon Menwa Batalyon VII pun menghargai mamih dan menyayangi Mamih. He..He..Dia bilang tak pernah melihat seorang ibu begitu perhatiannya pada anak putrinya. Pantas saja putrinya sifatnya macam ibunya..he..he.. galak !
Danyon Menwa Batalyon 1 pun bingung lihat mamih kasih suport saat saya diberangkatkan untuk jurit malam. Tak diberi kesempatan untuk bertemu mamih :). Sampai saat pelantikan bukannya saya yang diselamati malah mamih :)

Saat Prof Rachmat telah menyelesaikan PhDnya lalu mengucapkan terima kasih pada mamih dan bapak saya. Mamih hanya tersenyum. Beliau kagum sebab mamih telah mendidik kedisiplinan yg kuat sehingga Prof Rachmat hanya mempercayai saya sebagai asistennya. Saya teringat betapa susahnya dapat nilai 50 untuk mineralogy dari Prof Rachmat. Nah sekarang saya asistennya pula.

Mamih masih ingatkah dengan asistennya Prof Satari ( Basuki), yang sering bersilat lidah dengan Prof Rachmat ? Mamih selalu menertawakan Basuki bila Basuki naik pitam karena ulah Prof Rachmat.

Tak ada orang tua yang suka mengantar jemput anak gadisnya yang sudah bekerja kata Mbak Anna. Masa Betty sudah bekerja di BPPT lalu diperbantukan di PT Bahagia Agung dan IPB pula masih suka dijemput ibu -bapaknya. Apa tak malu ?

Lalu saat saya jadi asisten Dr Padmono di UNPAK. Mamih dan bapakpun sering jemput pula.
Sampai-sampai saya dikira anak bungsu. Weleh..

Mamih mengajarkan saya tak gentar dengan siapapun. Saya berkali-kali menghadap pejabat karena pekerjaan saya. Sampai-sampai Pak Habibie saat saya pamit untuk sekolah, beliau tanya keadaan mamih.
Pukul 7 malam hari terakhir saya di BPPT, saya bertemu di lift dengan pak habibie. Beliau berkata kok masih belum berangkat ? Cepat pulang ya ! Itulah pertemuan terakhir saya dengan Pak Habibie. Lalu Asistennya Pak Rubianto berkata pula. Wah masih beah di jakarta ya :) Lalu kamipun bersalaman dan Pak Habibie menepuk-nepuk bahu saya lalu berbicara dengan Amanda Katili. Sayapun titip salam untuk bapaknya Amnda sebab saya pernah bertemu.Wah mamih tanpa bimbinganmu saya jadi orang penakut. Takut bicara dan mengemukan pendapat dengan orang apalagi dengan pejabat.
Saya ingat perjanjian yg harus ditandatangani Prof Parangtopo (UI) dan Bppt (Prof. Habibie), membuat saya stress. Untungnya Prof Satari banyak menolong saya. Tanpa suport mamih saya tak akan macam ini. Teguh dengan pendirian dan prinsif.

Saat saya menghadap ke Pt Kalbe Farma karena saya harus menandatangani perjanjian bantuan pada saya untuk beli buku selama saya belajar. Beliau bilang didikan mamih keras sekali. Saya hanya mengiyakan saja sebab saya bingung juga kok mereka tahu mamih. Rupanya Ibu Ainun Habibie beri tahu tentang mamih. Sebab dia tanya juga hubungan mamih dengan Ua Sarwono ?

Kemanapun saya pergi mamih selalu memberi pesan dan nasehat yang susah dijabarkan saat itu oleh saya. Namun setelah saya jauh dari mamih barulah saya dapat menjabarkan makna pesan dan nasehat mamih itu.
Selalu mamih berkata mamih tak mau mewarisi saya dengan harta sebab bila saya dikasih harta, bila tak dapat mengunakannya akan jatuh sengsara. Namun bila mamih mewarisi saya dengan ilmu. Dimanapun saya berada dapat saya gunakan. Ilmu tidak dapat dicuri. Selalu berada dalam gegaman saya.
Oh mamih benar itu. karena itulah saya pergi jauh untuk menimba ilmu.
Mamih berharap ilmu saya dapat berguna untuk bangsa, negara dan agama. Insya Allah mamih !
Mamih berharap agar saya dapat hidup dengan baik dan diterima dimasyarakat dengan baik.
Mamih berkata bila hidup saya tak dapat diterima dimasyarakat, mamihlah yang bersalah sebab telah gagal mendidik putrinya.
Oh Mamih..saya ingin memperlihatkan pada mamih, saya dan Amir dapat hidup dengan baik dan diterima oleh masyarakat. Jadi mamih tak pernah gagal mendidik putrinya.

Bila saya teringat saat saya pergi ke Jepang mamih suport pula. Lalu saat saya pergi ke Cardiffpun mamih suport pula. Saya ingat saat saya bicara di airport . Prof Rachmat yang ikut mengantarkan kepergian saya untuk sekolah ke cardiff bertanya apa pesan Pak Habibie dan Pak Satari pada saya ? Saya cerita didepan mamih pesan Prof Habibie, Prof Satari, Prof Sitoresmi, Prof Nasution dllnya. Dan saya lihat mamih berlinang air mata. Saya tak pernah melihat mamih sedih. Saat itulah terlihat mamih begitu sedih. Sayapun bersayonaralah pada mamih. dan Bapak saya serta orang-orang yang mengantar saya ke bandara. Uh..sedihnya meninggalkan mamih yang bercucuran air mata.

Setelah di Cardiffpun supervisor sayapun kagum dengan mamih. Saat saya beritahu mamih telah berpulang kepangkuan Allah SWT. Kawan-kawan di departement earthsciencepun sedih. Betapa bermaknanya mamih untuk saya dan organisasi student. Tanpa bimbingan dan teladan serta suport mamih mungkin tak ada apa-apanya kami ini.

Oh Mamih sayang..keberhasilan didikan mamih mulai terlihat. Namun mamih tak dapat melihatnya.
Banyak orang merasa kehilangan mamih sebab mamih orang baik. Mamih banyak ide. Mamih tak pernah patah semangat. Mamih pelita hati kami. Mamih berkata pada saya dan kawan-kawan saya, untuk meraih PHD itu bukan saja kita harus pandai tetapi kita bisa menguasai dan mengatasi problema serta mempunyai kesempatan. Bila kamu bisa mengatasai semua problem dan sedikit kepandaian serta diberi kesempatan tentunya kau dapat meraih PhD. Mamih yakin itu.
Benar mamih tidur saja saya hanya 2- 4 jam setiap hari. Untungnya saya sudah biasa dengan didikan mamih ala orang belanda. Tepat waktu dan pegang teguh prinsif. He..he..

Nah Mamih..terima kasih dan sayang saya tak terhingga atas pengorbanan mamih selama hidupnya untuk anak perempuannya yang mamih sayangi. Kerjaannya belajar tak pernah mau bantu mamih didapur, sampai adik lelaki saya memanggil saya " Ratu Kuong". Mamih hanya tersenyum saja. "Adik saya protes kok Ratu Kuong tak pernah kerja tapi sering dikasih uang terus sama mamih". Mamih tak adil..! Kasihan mamih dapat protes dari adik-adik saya.
Setelah saya menikah barulah saya belajar memasak sebab dulu saat kecil, saya tak pernah kerja didapur. Maklum mamih saya punya pembantu..jadi anak gadisnya pemalas :(
Bapak saya sampai bilang saya salah sekolah. Harusnya sekolah dibidang parawisata sebab kerjanya kelayaban dari pagi pulang malam. Mainnya hanya dengan lelaki. Weleh...

Rasanya sayalah anak mamih yang paling nakal tapi penurut ya mamih :)
Mohon ampunannya mamih. Saya telah menyusahkan mamih selama saya remaja.

Semoga mamih tetap menemani tidur saya dan menjadi pelita hati dan teladan dalam hidup saya.

Amin Ya Robal Alamin.










UNTUK MAMIHKU TERCINTA

Mamih.
Setelah mamih meninggalkan kami
Kerinduan kami tak terhingga
Dalam setiap derap langkah hidup kami
Terngiang pesan dan nasehatmu pada kami

Mamih..
Mungkin engkau tidak tau kalau hari ini adalah hari sedihku
Bagimu hari-hari sudah tak berarti dan tidak ada bedanya
Setiap hari dan setiap saat adalah masa perjuangan
Kasih sayangmu tidak terbatas tempat dan waktu

Mamih..
Kasih sayangmu membuat kami berarti
Cinta kasihmu membuat kami peduli
Perjuanganmu membuat kami mandiri
Dan Ketulusanmu membuat kami mengerti

Mamih...
Maafkan anakmu yang belum dapat berbakti padamu
Bahkan untuk mengingatmupun sering kami lupa
Urusan dunia itu demikian menyita waktu, pikiran dan tenaga
Hingga lupa bahwa tugas 'birrul walidain' baru dijalankan tak seberapa

Mamih..
Kami tau, Segala kebaikan kami padamu tidak sebanding dengan cinta kasihmu pada kami
Kasih sayang dan Cinta kasihmu tidak akan tergantikan
Perjuangan Ketulusanmu tidak mungkin terbalaskan
Pengorbananmu sungguh tak terkirakan
Pengertian dan ketauladanmu tak dapat kami lupakan

Mamih..
Sampai akhir hayatmu mamih selalu membina diri dan keluarga
Senja ini mamih, ijinkan kami kembali meminta
Restui perjuangan anak perempuanmu dalam menggapai gita,cita dan cinta
Membina diri dan keluarga dalam Iman dan Islam
Demi cinta dan ridho-Nya

Mamih..
Ijinkan anak perempuanmu berucap
"Kami mencintaimu Mamih ...
"Kami menyayangimu Mamih...
"Kami sangat rindu kepada Mamih..
Semoga kasih sayang Allah terlimpah atasmu
dan ampunan atas segala kesalahan-kesalahanmu"
Amin ...Ya ..Robal ..Alamin.







Monday, January 15, 2007

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJI'UN


Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali.


Telah berpulang kepangkuan haribaan Allah SWT, ibundaku tercinta Onok Roemnasih pada hari kamis tanggal 4 Januari 2007, pukul 8.45 pagi WTB dan telah dikembumikan di Bogor pada pukul 4 sore WTB.


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Ya Allah, Ya Tuhan kami.
Apabila Almahumah kembali menghadap kehadiratMu dengan membawa amal Shaleh.
Mohon kiranya Engkau terima sebagai amal ibadahnya dan apabila almahumah kembali menghadap Engkau dengan membawa kekurangan mohon kiranya Engkau anugerahi dia Ampunan.
Amin Ya Robal Alamin.


Ya Allah, Ampunilah dosanya. Limpahkanlah rahmat kepadanya. Hapuskanlah segala kekhilapannya. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kembali kepadaNYalah kami akan kembali.


Ya Allah, jadikanlah dan sampaikanlah seumpama pahala yang kubaca kepada ruh Ibunda tercinta Onok Rumnasih, Ya Allah ! Ampunilah dosanya dan maafkanlah kesalahannya, muliakanlah kedatangannya, lapangkanlah kuburnya, terimalah kebaikannya, ampunilah kesalahannya, dengan rahmat Engkau wahai Allah yang amat Pengasih.


Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada TuhanMU dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. (Al-Fajr, 27-28).




Surat terakhir untuk mamih tersayang !

Mamih yang saya sayangi dan cintai,

Saya tak dapat membalas ataupun mengembalikan semua kebaikan mamih terhadap saya.
Mamih berikan kasih sayang dan didikan yg baik dari kecil sampai saya menikah.
Tak terkira jasa mamih tanamkan pada diri saya.
Saya tak akan pernah dapat mengembalikan semua jasa yang mamih berikan pada saya.
Tak cukup sejuta kata terima kasih yang saya ucapkan untuk mamih. Tak cukup saya perlihatkan perbuatan baik saya kepada mamih. Rasanya tak dapat terungkapkan kata2 untuk membalas budi baikmu mamih tersayang !
Mamih selalu memberikan material dan spirit pada saya. Namun saya sampai kali inipun tak dapat memberikan apa-apa pada mamih.
Saya hanya dapat mengucapkan terima kasih pada mamih dengan mengikuti ajaran dan wejangan mamih serta perilaku mamih saat mamih bersama kami.
Tak cukup rasanya terima kasih saya ucapkan pada mamih. Oh..mamih ..tanpa mamih, saya tak akan seperti ini. Tanpa didikan dan kasih sayang mamih tak akan saya dapat bermasyarakat.
Mamih air mata saya selalu bercucuran bila teringat mamih. Mamih sungguh baik pada saya. Mamih sungguh sayang dan cintanya pada saya. Mamih selalu menjadi teladan dan panutan saya.
Tanpa mamih hidupku tak lagi bersinar, karena mamih berikan selalu sinar kebenaran pada hidup saya.
Insya Allah mamih, saya akan selalu mengikuti pesan-pesan mamih dan mengikuti semua ketoladan mamih memdidik dan memelihara keluarga sampai akhir hayat mamih.

Insya Allah mamih, saya akan selalu mendoakan mamih setiap hari sebagai tanda kasih seorang anak yang tak pandai berterima kasih pada mamihnya.
Semoga mamih mengerti, betapa sulitnya hidup saya tanpa mamih.

Selalu terbayang-bayang. Selalu terkenang-kenang oh mamih sayang !