Salah satu Motto dikeluarga kami adalah " Sedia payung sebelum hujan ".
Saat itu kami tak tahu funggsinya motto tsb. Yang kami ingat kami harus melakukan rutinitas berdasarkan skedul yang sudah kedua orang tua kami persiapkan untuk kami. Jadi kegiatan setiap hari yang kami lakukan harus berdasarkan jadwal alias skedul. Bila kami menyalahi peraturan tentu saja kami mendapat hukuman.
Pendidikan dirumahpun kedua orangtua kami mengajarkan pendidikan yang advance. Baik itu pendidikan didalam rumah, dilingkungan sekolah maupun dalam bidang keagamaan.
Saya teringat saat saya duduk disekolah dasar, Beliau mengajarkan saya pengetahuan setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama/SMP. Begitu juga saat saya duduk di tingkatan SMP, Beliau mengajarkan saya pengetahuan setingkat dengan Sekolah Menengah Atas/SMA.
Sungguh sulit bagi saya saat itu sebab banyak sekali kegiatan berdasarkan skedul yang harus saya lakukan setiap hari. Jadi saya harus pandai membagi waktu antara belajar dirumah, belajar disekolah, melakukan ekra kulikuler dan kegiatan bermain.
Ketika kecil saya sering mendapat hukuman karena kealfaan saya dalam urusan keagamaan. Misalnya saya tidak mengerjakan sembahyang subuh, Beliau menyiram air seember ke tempat tidur saya. Dikarena saya tidak mau bangun untuk mengerjakan sembahyang. Begitu juga bila saat berpuasa pada bulan Ramadhan, bila saya tidak segera bangun saat saya dibangunkan tentunya saya tidak dapat makan pagi. Lalu tidak mau belajar baca Al-Quran bila guru mengaji datang kerumah dsbnya. Hukuman tsb membuat saya jera. Tidak hanya harus membersihkan tempat tidur, lapar dan dahaga karena tidak makan pagi namun kerugian saya bertambah dikarenakan tidak dapat bermain saat waktu bermain, tidak dapat mengikuti kegiatan keluarga dsbnya.
Kedua orangtua saya mempunyai motivasi untuk kami. Bila kami berpretasi disekolah selalu kami mendapat hadiah yang menunjang kegiatan sekolah. Tidak jarang akhirnya diantara kami saling bersaing untuk mencapai kepopuleran dirumah. Siapa yang terpandai dirumah ?
Kedua orangtua kami memanjakan kami dengan pengetahuan dan kasih sayang. tidak jarang uang Beliau habis karena beli buku-buku kami atau membayar kegiatan kami. Karena itu kami semua jadi kutu buku dan sangat menyayangi buku. Jadilah kami pemburu buku. Dimulai dari cerita anak-anak sampai buku pengetahuan. Lalu kamipun jadi punya jiwa petualang dan keingin tahuan yang tinggi tarafnya. Orang tua kamipun memasukkan kami ke klub-klub tertentu berdasarkan motivasi kami. Sayalah anak perempuan Beliau yang paling tomboy. Semua pekerjaan lelaki saya sukai, sebaliknya pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan saya tidak menyukainya. He..he..
Bayangkan tiap minggu naik gunung, pergi ke gua-gua atau ikut perlombaan cros country. Saya ini paling senang ngumpulin bet lalu dijahit dijaket. Rasanya saya bergaya dan punya kekuatan bila memakai jaket dan topi yang banyak simbul organisasinya. Sampai-sampai mamih bilang kamu ini pecinta mati dsbnya. Namanya harum tetapi tidak dapat balik kerumah. Maklumlah kala itu orang yang suka naik gunung sering tidak dapat pulang. Lalu dikoran diberitakan hilang atau meninggal dsbnya. Bapak saya berkata " Saya ambil bidang pelajaran salah, seharusnya saya sekolah dibidang pariwisata" dsbnya. He..he..
Sayapun ikut perkumpulan ini itu sampai-sampai tidak punya waktu dengan keluarga. Weleh nakalnya dihabiskan oleh sendiri. Rumah Beliau tidak habisnya dikunjungi teman-teman. Kasihan mamih tak pernah betistirahat selalu sibuk dengan kawan-kawan saya. Maafkanlah saya mamih sayang !
Beliau tidak pernah mengambil uang jajan kami sepeserpun malah kami diharuskan menabung setiap hari. Uang jajan kami ya untuk kami pergunakan berdasarkan keperluan kami dan keinginan kami sendiri.
Kamipun punya simpanan uang dibotol. Bila kami berbicara kasar atau mengumpat, kami harus menyimpan uang jajan kami dibotol tsb sebagai hukuman karena kami telah berbicara dengan bahasa yang kasar. Uang hasil hukuman itu biasanya Beliau belikan buku-buku agama untuk menunjang pengetahuan kami dalam bidang keislaman.
Karena pendidikan dirumah sangat keras dan disiplin tidak jarang saya menjadi anak bawang dimana-mana. Tidak diperhatikan kehadirannya karena usianya paling kecil dibandingkan dengan usia seluruh kawan-kawannya, namun tidak dapat dipungkiri keberadaannya dikelompok tsb karena kebolehannya. Itulah "Anak Bawang"
Biarpun saya sering menjadi anak bawang, namun kawan-kawan saya memanjakan dan menyayangi saya. Saya mendapat julukan tersendiri yaitu "si Kecil Si Cabe Rawit".
Saya teringat kala saya ditingkat SD dan SMP selalu duduk dibangku depan, persis didepan meja guru saya. Sayapun tidak duduk berdua dengan kawan saya, namun saya duduk diantara kawan-kawan saya. Jadi satu bangku duduk bertiga dikarenakan saya anak bawang. He..he.. Begitu juga dengan seragam sekolah saya, agak lain. Saya pakai seragam yang ada talinya agar baju saya tidak merorot kebawah he..he..Jadi teman-teman Beliau bila berseloroh dengan orangtua saya selalu berkata "Anak Putri Ibu Barnas itu yang mana ?" Lalu Kawannya jawab " Itu yang rambutnya berponi, pakai seragamnya lain dari yang lain. Kecil mungil dan selalu didepan. Jadi Mudah dikenali " Weleh..weleh..
Ketika kecil saya masuk Taman Kanak-Kanak usia 3-5 tahun. Kemudian saya masuk Sekolah Dasar. Usia 6 tahun dan pada usia 10 tahun saya mengikuti ujian
terakhir SD. Usia 11 tahun saya sudah duduk di tingkatan SMP dan usia 16 tahun saya sudah menyelesaikan sekolah tinkatan SMA. Dan Usia 17 tahun saya duduk di tingkat Universiti. Saya ambil dua jurusan yaitu bidang Ekonomi Perusahaan dan Kimia. Kalau pagi saya masuk kuliah di jurusan kimia dan saat sore hari saya masuk kuliah di jurusan ekonomi. Tentunya banyak kesulitan dalam membagi waktu. Tidak jarang berbenturan kuliah dengan kuliah yang utama sehingga harus pandai membagi waktu.
Karena Pendidikan yang advance dirumah. Saya teringat saat saya duduk di kelas satu SMP, saya bisa mengerjakan pekerjaan kakak saya yang saat itu duduk di kelas tiga SMP. Guru kakak saya Pak Achyar tidak percaya dengan kebolehan saya sehingga suatu hari kami berdua dipanggil untuk mengerjakan pekerjaan bersama. Dan Hasilnya sungguh mencengangkan. Kakak saya ada kesalahan sedangkan saya betul semua. Akhirnya Pak Achyar menemui bapak saya dan menceritakan keadaan kami disekolah. Kebetulan sekolah kami sekolah terkenal saat itu. Pembagian kelaspun berdasarkan kepintaran anak. Misalnya Kelas 1a dan 1b itu untuk kelas tingkatan yg agak lamban cara berpikirnya. Kelas 1c dan 1d untuk kelas tingkatan yang sedang cara berpikirnya dan Kelas 1e dan 1f untuk kelas tingkatan yang berpikiran cerdas. Jadi Tingkatan pelajaran tiap kelas berbeda berdasarkan kepintaran. Dikelas yg hanya duduk orang-orang pintar itu sangat tinggi kurikulumnya dari pada kelas yang lain. Misalnya saja semua rumus harus dibuktikan dihafalkan dikelas saya. Jadi bila lupa rumus lalu kita jabarkan dan buktikan tentunya kita akan ingat lagi rumus tsb.
Kedua orang tua kami membiasakan belajar dua kali dalam sehari. Yaitu malam hari kami mengerjakan pekerjaan rumah dan belajar yang tadi pagi dipelajari disekolah. Pagi hari sebelum berangkat sekolah kami mempersiapkan pelajaran yang akan dipelajari disekolah. Sehingga kami faham betul pelajaran apa yg akan dibahas disekolah. Kamipun harus mencatat pertanyaan setiap pelajaran yang tidak kami fahami. Ide apa yang ada dalam pikiran kami saat itupun tidak luput dari kejaran pertanyaan orang tua kami. Lalu kamipun belajar mencari jawabnya diperpustakaan atau perpustakaan kecil kepunyaan keluarga. Dan diskusipun diteruskan diruang keluarga kami yaitu "Ruang Tengah".
Bila kami sudah menyelesaikan tugas rutin kami sebagai pelajar, Beliau selalu mendatangi setiap kamar anaknya dan melihat sendiri apakah kami sudah tidur atau masih belajar. Lalu tiap tengah malam Beliaupun selalu membangunkan kami untuk melakukan sembahyang malam. Begitu perhatiannya Beliau kepada kami. Sampai waktu tidur Beliaupun tersita karena harus menengoki kamar-kamar kami.
Biarpun rutinitas kami padat, tetapi kami dapat bermain layak sesuai dengan usia kami. Hari Minggu adalah hari keluarga kami. Kami diberi kesempatan untuk tidak memikirkan pelajaran kami pada hari itu, sehingga hari Minggu adalah hari yang paling kami tunggu dan kami agungkan. He..he.
Dikarenakan dari kecil rutinitas kami semacam itu. Sudah besarpun menjadi kebiasaan kami. Rasanya tidak enak bila kami tidak mengerjakan kerutinitasan kami.
Kedua orang tua kami mendidik kami dengan cara yg berbeda sebab masing-masing dari anaknya tentunya ada yang cepat menangkap pelajaran atau ada yang lamban menangkap pelajaran. Bila yg lamban menangkap pelajaran. Mamih saya mengajarkan untuk merekamnya istilah-istilah dalam biologi atau untuk kimia dan matematik menempelkan rumus-rumus disemua didinding rumah. Yang paling penuh tempelan dengan rumus-rumus ya dikamar kecil. Sambil duduk merenung diam-diam ya dapat mengingat rumus. Lalu dilangit-langit dan dinding kamar tidur penuh tempelan dengan rumus-rumus pula, biar saat istirahat kami bisa mengingatnya pula. Bayangkan kami harus hafal "periodic table" element kimia sampai bobot atom dan karakternya masing-masing.Misalnya golongan dua yaitu Be, Mg dan Ca. Saya menghafalnya "Betty Mangga Calik", untuk memudahkan menghafal golongan tsb. Lalu untuk Mineralogi lebih parah lagi kami harus pandai menghayal batu-batuan tersebut dilihat dari kiri, kanan, atas bawah dsbnya. Perlu kebiasaan yang rutin dan pengasahan pemikiran yang baik.
Dalam masalah bahasapun kami diberi pengetahuan yang banyak. Kedua orang tua kami sering berbicara memakai bahasa Belanda bila membicarakan kami didepan kami. Biar kami tak tahu apa yang dibicarakan Beliau. Karena sering mendengar satu istilah tentunya kamipun jadi tahu artinya dan mendorong kami untuk mempelajari bahasa Belanda. Ya mamih saya sering mengajari lagu-lagu yang berbahasa Belanda lalu bapak saya sering mengajari lagu-lagu berbahasa Jepang. Jadi setelah besar kami sudah terbiasa dengan dua bahasa tsb. Kami setiap hari diharuskan menghafal 30-50 kata2 bahasa asing dan tidak boleh lupa.
Setelah saya menjadi peneliti barulah saya faham betapa bergunanya pendidikan bahasa dirumah. Saat saya bekerja di BPPT, sayapun dapat berbicara dengan peneliti orang Jepang. Mereka lebih terbuka bicara risetnya dengan bahasa Jepangnya. Begitu juga saat saya menjadi asisten Prof Rachmat di IPB , tidak jarang berdiskusi memakai bahasa Belanda. Saat saya postgradute dan harus menghadiri seminar di Brest (France), sayapun harus dapat berbicara Perancis pula.
Saat mamih masih hidup saya pernah bertanya kenapa mamih bicara dengan bapak selalu bicara bahasa Belanda didepan kami. Biar kami tidak mengerti apa yang dibicarakan Beliau tentang kami begitu jawabannya. Lalu sayapun berceritalah pada Amir suami saya tentang pendidikan kami sekeluarga. Amir lalu berkomentar "Honey, kita berlajar bahasa Wales saja", biar anak-anak kami tidak tahu bila kami bicarakan. :). Ah..ada-ada saja Amir ini. Bahasa Waleskan susah. Iya hanya kita yang mengerti, biar orang lain yang mendengar percakapan kita tidak faham.
Peraturan dirumah orang tua kami bukan peraturan berasal dari Sunda atau Jawa, tetapi peraturan Islam yang dijunjung tinggi oleh keluarga kami. Sehingga saya menikah dengan Amirpun. Peraturan rumah kami peraturan Islam yang dipakai, bukan peraturan Indonesia atau Inggris.
Tata cara mendidik Kedua orang tua kami terhadap kami merupakan touladan bagi kami sebagai generasi penerusnya. Disini terlihat upaya membangun ahlak ,membentuk aspek keimanan, aspek sosial dirumah tangga dan menghilangkan kemungkaran dalam rumah. Sebab rumah tak hanya dapat dipandang dari luar saja tetapi dapat dilihat dari dalam pula. Beliau berpesan pada kami "Usahakan semampu mungkin selalu berada didalam rumah". "Jadikanlah Rumah sebagai kiblat". Sebab pendidikan yang dini berasal dari rumah lalu sekolah dan kemudian lingkungan. Pendidikan dirumah merupakan pondamen yang kuat dan bekal hidup yang paling berharga dalam hidup setiap insan. Dari dasar pendidikan rumahlah terbentuk sosok ayah yang bertanggung jawab, istri yang baik serta anak-anak yang soleh yang tentunya akan berguna bagi bangsa, negara dan agama.
Rasa kagum, bangga dan terima kasih yang tidak terhingga mempunyai orangtua yang telah mendidik kami sehingga kami mampu hidup layak bermasyarakat.
Semoga Allah melimpahkan Rahmatnya, hapuskan segala kehilapannya sebab Beliau tidak pernah menyia-nyiakan kami sebagai harta yang dititipkan Allah SWT kepada Beliau berdua. Beliau menjaga, memerihara kami dengan hati yang tulus iklas. Beliau mendidik kami agar mematuhi kebenaran dan menjauhi hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah SWT.